Bacaan Alkitab
Daniel 6:1-11

1 (6-2) Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan;
2 (6-3) membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan.
3 (6-4) Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.
4 (6-5) Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.
5 (6-6) Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!”
6 (6-7) Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku!
7 (6-8) Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa.
8 (6-9) Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”
9 (6-10) Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu.
10 (6-11) Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
11 (6-12) Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.


Renungan GEMA
Doa Mengungkapkan Kebergantungan

Daniel adalah orang Yehuda (Kerajaan Israel Selatan) yang ikut dibawa sebagai tawanan ke Babel. Karena dia adalah orang muda yang pandai, dia direkrut untuk menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Babel (pasal 1). Setelah Kerajaan Babel ditaklukkan oleh Kerajaan Persia, Daniel kembali diangkat menjadi pejabat tinggi, bahkan menjadi salah satu (yang paling disegani) dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 wakil raja (6:2-4). Karena prestasi Daniel amat menonjol, para pejabat tinggi dan para wakil raja menjadi iri dan ingin menjatuhkan Daniel. Karena Daniel tidak pernah berbuat salah, akhirnya mereka menghasut Raja Darius untuk mengeluarkan surat perintah—yang berlaku selama 30 hari—yang isinya adalah larangan memohon (beribadah) kepada siapa pun selain kepada Raja Darius, dengan ancaman dilempar ke gua singa bagi pelanggar aturan. Sekalipun demikian, respons Daniel amat mengesankan, “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (6:11).

Mengapa Daniel tetap meneruskan kebiasaan berdoa walaupun menghadapi ancaman hukuman mati? Bagi Daniel, doa adalah bagian hidupnya. Melalui doa, dia menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dia tidak takut terhadap ancaman apa pun karena hidupnya bergantung kepada Allah yang lebih berkuasa dari segala sesuatu. Doa justru merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi ancaman apa pun. Walaupun sepanjang malam berada di gua singa, Allah telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga Daniel sama sekali tidak terluka (6:23-24).

Marilah kita mengevaluasi diri kita sendiri: Saat menghadapi ancaman bahaya—musuh, penyakit, bencana alam, kekurangan uang, ancaman PHK, dan sebagainya—apakah kita berani untuk tetap hidup bergantung kepada Allah? Hal apa yang paling menakutkan bagi diri Anda? Saat Anda menghadapi sesuatu yang menakutkan, apakah Anda berani untuk tetap bergantung kepada Allah? Mana yang paling Anda andalkan: simpanan uang, posisi tinggi dalam pekerjaan, prestasi (kerja, studi), popularitas, dan hal-hal lain, atau Anda mengandalkan Allah? Apakah kehidupan doa Anda telah menunjukkan bahwa Anda memang hidup bergantung kepada Allah? [P]