Bacaan Alkitab
Keluaran 22:28-31

28 “Janganlah engkau mengutuki Allah dan janganlah engkau menyumpahi seorang pemuka di tengah-tengah bangsamu.
29 Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggurmu. Yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah kaupersembahkan kepada-Ku.
30 Demikian juga harus kauperbuat dengan lembu sapimu dan dengan kambing dombamu: tujuh hari lamanya anak-anak binatang itu harus tinggal pada induknya, tetapi pada hari yang kedelapan haruslah kaupersembahkan binatang-binatang itu kepada-Ku.
31 Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing.”


Renungan GEMA
Menghargai Allah

Ada dua macam alasan yang membuat seseorang menghargai Allah, yaitu kesadaran bahwa Allah memang harus dihargai dan keinginan memperoleh berkat dari Allah. Orang yang menghargai Allah karena kesadaran akan menghargai tanpa syarat. Akan tetapi orang yang menghargai Allah untuk mendapat berkat akan kehilangan penghargaan saat merasa tidak mendapatkan berkat atau keinginannya tidak terpenuhi. Orang jenis kedua (yaitu orang yang menghargai Allah agar mendapat berkat) akan sangat kecewa saat mengalami kemalangan, dan selanjutnya akan kehilangan gairah dalam beribadah, bahkan ada yang kemudian mengutuki Allah (berkata jelek tentang Allah). Contoh yang jelas terlihat dalam Alkitab adalah sikap istri Ayub. Saat Ayub kehilangan anak-anak dan harta bendanya, Ayub masih bisa mempertahankan imannya. Akan tetapi, istri Ayub tidak tahan dan berkata kepada suaminya, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Jelaslah bahwa penghargaan istri Ayub terhadap Allah ditentukan oleh kondisi. Setelah kehilangan anak-anak dan hartanya, dia merasa tidak ada lagi gunanya beribadah kepada Allah, sehingga ia menganjurkan suaminya untuk mengutuki Allah.

Penghargaan terhadap Allah tercermin melalui dua hal: Pertama, penghargaan terhadap Allah terlihat dari penghargaan terhadap para pemimpin yang ditetapkan Allah (pemerintah, orang tua, guru, dan para pemimpin lainnya). Orang yang tidak bisa menghargai para pemimpin yang kelihatan pasti sulit menghargai Allah yang tidak kelihatan. Dalam surat Roma, Rasul Paulus menegaskan bahwa orang Kristen harus menghargai para pemimpin negara (pemerintah) karena keberadaan para pemimpin itu ditetapkan (seizin) Allah (Roma 13:1-2). Orang Kristen juga harus menghormati (menghargai, menaati) orang tuanya (Kolose 3:20; Keluaran 20:12). Kedua, penghargaan terhadap Allah terlihat dari kesetiaan memberi persembahan kepada Allah. Saat kita memberi persembahan, kita menempatkan Allah dalam posisi yang lebih terhormat dan lebih penting daripada diri kita. Bila kita sangat menghargai Allah, kita tidak akan bersikap “hitung-hitungan” terhadap Allah. Bila kita hanya bersedia mempersembahkan “uang kecil” kepada Allah, jelas bahwa kita tidak menghargai Allah. Apakah Anda sudah menghargai Allah secara semestinya? [GI. Purnama]