Bacaan Alkitab
Imamat 7:1-21

1 “Inilah hukum tentang korban penebus salah. Korban itu ialah persembahan maha kudus.
2 Di tempat orang menyembelih korban bakaran, di situlah harus disembelih korban penebus salah, dan darahnya haruslah disiramkan pada mezbah itu sekelilingnya.
3 Segala lemak dari korban itu haruslah dipersembahkan, yakni ekornya yang berlemak dan lemak yang menutupi isi perut,
4 dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang, dan umbai hati yang harus dipisahkan beserta buah pinggang itu.
5 Haruslah imam membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai korban api-apian bagi TUHAN; itulah korban penebus salah.
6 Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus.
7 Seperti halnya dengan korban penghapus dosa, demikian juga halnya dengan korban penebus salah; satu hukum berlaku atas keduanya: imam yang mengadakan pendamaian dengan korban itu, bagi dialah korban itu.
8 Imam yang mempersembahkan korban bakaran seseorang, bagi dia juga kulit korban bakaran yang dipersembahkannya itu.
9 Tiap-tiap korban sajian yang dibakar di dalam pembakaran roti, dan segala yang diolah di dalam wajan dan di atas panggangan adalah bagi imam yang mempersembahkannya.
10 Tiap-tiap korban sajian yang diolah dengan minyak atau yang kering adalah bagi semua anak-anak Harun, semuanya dapat bagian.”
11 “Inilah hukum tentang korban keselamatan, yang harus dipersembahkan orang kepada TUHAN.
12 Jikalau ia mempersembahkannya untuk memberi syukur, haruslah beserta korban syukur itu dipersembahkannya roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, serta roti bundar dari tepung yang terbaik yang teraduk, yang diolah dengan minyak.
13 Ia harus mempersembahkan persembahannya itu beserta dengan roti bundar yang beragi, di samping korban syukur yang menjadi korban keselamatannya.
14 Dan dari padanya, yakni dari setiap bagian persembahan itu haruslah dipersembahkannya satu roti sebagai persembahan khusus bagi TUHAN. Persembahan itu adalah bagian imam yang menyiramkan darah korban keselamatan.
15 Dan daging korban syukur yang menjadi korban keselamatannya itu haruslah dimakan pada hari dipersembahkannya itu. Sedikitpun dari padanya janganlah ditinggalkan sampai pagi.
16 Jikalau korban sembelihan yang dipersembahkan itu merupakan korban nazar atau korban sukarela, haruslah itu dimakan pada hari mempersembahkannya dan yang selebihnya boleh juga dimakan pada keesokan harinya.
17 Tetapi apa yang masih tinggal dari daging korban sembelihan itu sampai hari yang ketiga, haruslah dibakar habis dengan api.
18 Karena jikalau pada hari yang ketiga masih dimakan dari daging korban keselamatan itu, maka TUHAN tidak berkenan akan orang yang mempersembahkannya dan korban itu dianggap batal baginya, bahkan menjadi sesuatu yang jijik, dan orang yang memakannya harus menanggung kesalahannya sendiri.
19 Bila daging itu kena kepada sesuatu yang najis, janganlah dimakan, tetapi haruslah dibakar habis dengan api. Tiap-tiap orang yang tahir boleh memakan dari daging korban itu.
20 Tetapi seseorang yang memakan daging dari korban keselamatan yang untuk TUHAN, sedang ia dalam keadaan najis, haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya.
21 Dan apabila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, yakni kepada kenajisan berasal dari manusia, atau kepada hewan yang najis atau kepada setiap binatang yang merayap yang najis, lalu memakan dari pada daging korban keselamatan yang untuk TUHAN, maka haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya.”


Renungan GEMA
Layakkah Aku di Meja Perjamuan?

Dalam bacaan Alkitab hari ini, sekali lagi Tuhan Allah memberi perintah dan petunjuk kepada Harun dan anak-anaknya (para imam) tentang pengaturan persembahan korban penebus salah dan korban keselamatan. Firman Tuhan mengungkapkan bahwa Tuhan Allah memperhatikan mereka yang melayani. Persembahan korban bakaran dari binatang harus dibakar semuanya, kecuali bagian kulit yang menjadi bagian para imam. Demikian pula halnya dengan korban sajian. Korban sajian yang dimasak (7:9, yaitu dibakar, diolah dalam wajan, dipanggang) diberikan kepada imam yang mengerjakan ritual, sedangkan korban sajian yang tidak dimasak diberikan kepada semua imam (anak-anak Harun). Kita tidak mengerti mengapa korban sajian jenis pertama (dimasak) hanya untuk imam yang melakukan ritual dan korban sajian jenis kedua (tidak dimasak) bagi semua anak-anak Harun. Ada kemungkinan bahwa korban sajian yang pertama (dimasak) lebih jarang dan jumlahnya lebih sedikit.

Dalam hukum tentang korban keselamatan, Tuhan Allah memberi kesempatan kepada umat Allah yang mempersembahkan untuk ikut memakan persembahan itu, selain ada bagian khusus untuk imam. Dalam memakan persembahan, Tuhan Allah mengingatkan umat-Nya untuk memakan korban keselamatan berupa daging korban syukur pada hari itu juga dan tidak boleh disisakan untuk keesokan harinya. Untuk korban nazar dan korban sukarela, umat Allah harus makan korban tersebut pada hari itu juga, tetapi masih boleh memakan sisanya pada keesokan harinya. Akan tetapi, pada hari ketiga, bagian yang tersisa harus dibakar. Jika umat masih makan persembahan itu pada hari ketiga, Tuhan tidak lagi berkenan kepada orang itu. Di sini kita melihat keseriusan Allah akan kekudusan-Nya dan kasih setia-Nya terhadap umat-Nya. Secara natural, makanan daging yang dibiarkan begitu saja sudah rusak pada hari ketiga dan tidak layak untuk dimakan. Kekudusan Allah menuntut bahwa korban binatang harus tanpa cacat dan hanya umat yang berkenan kepada Allah yang boleh beribadah kepada Allah. Dalam sakramen perjamuan kudus, kita (yang mengaku percaya kepada Kristus) diundang untuk makan dan minum semeja dengan Tuhan. Namun, apakah sebelum mengikuti perjamuan kudus, kita senantiasa memohon agar Tuhan menguduskan diri kita? [GI Abadi]