Bacaan Alkitab
Imamat 25:29-55

29 “Apabila seseorang menjual rumah tempat tinggal di suatu kota yang berpagar tembok, maka hak menebus hanya berlaku selama setahun mulai dari hari penjualannya; hak menebus berlaku hanya satu tahun.
30 Tetapi jikalau rumah itu tidak ditebus dalam jangka waktu setahun itu, rumah itu secara mutlak menjadi milik si pembeli turun temurun; dalam tahun Yobel rumah itu tidaklah bebas.
31 Tetapi rumah-rumah di desa-desa yang tidak dikelilingi pagar tembok haruslah dianggap sama dengan ladang-ladang di negeri itu, atasnya harus ada hak menebus dan dalam tahun Yobel rumah itu harus bebas.
32 Mengenai rumah-rumah di kota-kota orang Lewi, hak menebus rumah-rumah itu ada pada orang-orang Lewi untuk selama-lamanya.
33 Sekalipun dari antara orang Lewi yang melakukan penebusan, tetapi rumah yang terjual di kota miliknya itu haruslah bebas dalam tahun Yobel, karena segala rumah di kota-kota orang Lewi adalah milik mereka masing-masing di tengah-tengah orang Israel.
34 Dan padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka janganlah dijual, karena itu milik mereka untuk selama-lamanya.”
35 “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.
36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.
37 Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.
38 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.
39 Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia.
40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu.
41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya.
42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak.
43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.
44 Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan.
45 Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu.
46 Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian, supaya diwarisi sebagai milik; kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya, tetapi atas saudara-saudaramu orang-orang Israel, janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain.
47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing,
48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia,
49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya.
50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan.
51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu.
52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya.
53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu.
54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya.
55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.”


Renungan GEMA
Tanggung Jawab Sosial Umat Allah

Aturan Tahun Yobel untuk penjualan tanah, rumah, dan manusia (budak) berbeda-beda. Tanah warisan orang Israel tidak pernah dijual mutlak. Si penjual atau kerabatnya berhak menebus tanah itu. Bila tanah tidak ditebus, tanah yang dijual harus dikembalikan pada si penjual pada Tahun Yobel (25:23-28). Seperti aturan untuk tanah, rumah di desa juga boleh ditebus, dan—bila tidak ditebus—harus dikembalikan pada Tahun Yobel (25:31). Namun, kesempatan menebus rumah di kota berpagar tembok hanya satu tahun. Bila tidak ditebus dalam satu tahun, rumah itu menjadi milik si pembeli untuk seterusnya tanpa batas waktu (25:29-30). Khusus untuk suku Lewi (yang tidak mewarisi tanah), status rumah sama seperti status tanah di luar suku Lewi. Orang Lewi boleh menebus rumah kapan pun, dan bila tidak ditebus, rumah itu harus dikembalikan pada Tahun Yobel (25:32-33). Orang asing boleh dijadikan budak (25:44-45), tetapi perbudakan tidak diizinkan di antara bangsa Israel sendiri. Sesama orang Israel harus membantu saudaranya yang jatuh miskin tanpa meminta bunga atau riba. Orang Israel yang jatuh miskin hanya boleh dijadikan pekerja upahan, tidak boleh dijadikan budak. Bila orang Israel yang jatuh miskin menjadi budak pendatang yang kaya, orang Israel itu boleh menebus dirinya sendiri (bila mampu). Saudara atau kerabatnya juga berhak menebus dia. Harga tebusan dihitung berdasarkan jumlah tahun sampai datangnya Tahun Yobel. Bila tidak ditebus, orang Israel itu harus dibebaskan pada Tahun Yobel (25:35-41).

Aturan di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya, Allah tidak menghendaki perbudakan. Orang Israel harus memiliki kasih, terutama kepada sesama orang Israel. Mereka harus berusaha menebus saudara atau kerabat dekat yang menjual dirinya sebagai budak orang asing karena jatuh miskin. Prioritas membantu saudara atau kerabat dekat ini kemudian berkembang menjadi prioritas membantu saudara seiman pada masa Perjanjian Baru (Galatia 6:10). Walaupun situasi pada zaman ini sudah sangat berbeda dengan situasi pada zaman Alkitab, orang Kristen perlu memikul tanggung jawab sosial. Orang Kristen yang kaya perlu membantu saudara seiman yang miskin. Di Indonesia, komunitas orang Kristen di kantong-kantong kemiskinan perlu menjadi perhatian orang Kristen yang lebih kaya. Apakah gereja Anda telah memiliki kepedulian terhadap saudara seiman yang miskin? [GI Purnama]