Bacaan Alkitab
2 Korintus 6:11-18

11 Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.
12 Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu.
13 Maka sekarang, supaya timbal balik–aku berkata seperti kepada anak-anakku–:Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!
14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
15 Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?
16 Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.
17 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
18 Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

2 Korintus 7:1

1 Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.


Renungan GEMA
Batas-batas dalam Pergaulan

Walaupun status orang percaya sebagai terang bagi dunia mengharuskan kita untuk bergaul dengan orang yang tidak percaya, pergaulan yang boleh kita jalin terbatas. Orang beriman (orang percaya) tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa kita memiliki perbedaan identitas dengan orang-orang yang tidak percaya. Perbedaan itu amat kontras (mencolok)! Perbedaan itu setara dengan perbedaan antara kebenaran dan kedurhakaan atau antara terang dan gelap, bahkan perbedaan itu seperti perbedaan antara Kristus dengan Belial (sebutan “Belial” ini menunjuk kepada Setan). Oleh karena itu, saat kita bergaul dengan orang yang tidak percaya, ada kebiasaan atau tindakan orang tak percaya yang harus dihindari atau dijauhi, khususnya yang menyangkut penyembahan berhala. Pandangan orang percaya dengan orang yang tidak percaya tentang apa yang benar dan apa yang salah pun dalam hal-hal tertentu memiliki perbedaan yang tidak boleh dikompromikan. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel berkali-kali melanggar perintah Allah yang mengharuskan mereka memisahkan diri dengan penduduk setempat yang notabene adalah para penyembah berhala. Pelanggaran itu membuat bangsa Israel berkali-kali jatuh ke dalam penyembahan berhala dan menerima hukuman Allah. Bila dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dunia dan terang dunia (Matius 5:13-14), hal itu berarti bahwa orang-orang percaya harus mempertahankan identitas sebagai anak-anak Allah yang memiliki ciri berbeda dengan orang-orang tidak percaya.

Setiap relasi dengan orang yang tidak percaya harus dievaluasi secara kritis (Bandingkan dengan 1 Korintus 15:33). Kerja sama bisnis harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar kita tidak terjerumus mengikuti cara-cara yang bertentangan dengan iman kita, Pernikahan dengan orang yang tak percaya bisa menghasilkan kesulitan (konflik) serius saat kita hendak mengekspresikan iman dalam hal-hal seperti menentukan arah pendidikan anak (anak akan bingung memilih mengikuti ayah atau mengikuti ibu). Oleh karena itu, orang percaya harus sangat berhati-hati dalam bergaul atau bekerja sama dengan orang yang tidak percaya. Apakah Anda pernah memikirkan batas-batas yang harus ditetapkan saat bergaul dengan orang yang tidak percaya? Bagaimana cara Anda bergaul saat ini? [GI Purnama]