Bacaan Alkitab
Yeremia 29:1-7

1 Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel.
2 Itu terjadi sesudah raja Yekhonya beserta ibu suri, pegawai-pegawai istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi telah keluar dari Yerusalem.
3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh Zedekia, raja Yehuda, ke Babel, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya:
4 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:
5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.


Renungan GEMA
Gereja dan Tanggung Jawab Sosial

Sepanjang sejarah, umat Allah dituntut untuk memberikan nilai dan dampak yang positif dalam kehidupan sosial masyarakat. Adam Ferguson, seorang Pemikir Skotlandia, memunculkan istilah “Civil Society” yang menunjuk pada suatu masyarakat sipil non pemerintah yang beradab dan menghargai hak-hak asasi anggotanya. Gereja termasuk civil society yang harus berperan serta dalam mengusahakan masyarakat yang adil, makmur dan berkeadilan sosial. Dalam pemaknaan ini, tampaknya gereja perlu memikirkan kembali tentang perannya dalam kehidupan sosial. Pemikiran kembali ini diharapkan bisa memberi pencerahan yang diperlukan bagi terciptanya sebuah teologi yang seimbang. Apabila gereja lemah atau sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang partisipasi sosial, maka jemaatnya bisa mengabaikan realitas sosial.

Gereja sering hanya mengurus hal-hal yang terkait dengan ritual ibadah semata serta melupakan tanggung jawab sosial. Dalam merancang program pelayanan gereja, berapa besar persentase dana untuk kegiatan dan persentase dana untuk pelayanan sosial?

Ketika umat Allah dibuang ke Babel, Tuhan berbicara kepada nabi Yeremia untuk mengingatkan umat Allah akan tanggung jawab sosial mereka. “Usahakanlah…. berdoalah….” (Yeremia 29:7). Mengusahakan kesejahteraan kota harus menjadi tindakan yang intensional (disengaja) untuk kebaikan “kota” atau tempat umat Allah berada. Tanggung jawab ini tetap melekat pada umat Allah di sepanjang sejarah.

Gereja perlu memikirkan pelayanan yang seimbang. Melalui pelayanan yang seimbang, kita belajar untuk semakin mengenal Tuhan. Adalah keliru bila gereja hanya menekankan relasi secara vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) dan mengabaikan relasi secara horizontal (hubungan manusia dengan sesamanya). Gereja harus mengajar jemaat untuk mengasihi Tuhan dan sekaligus mengasihi sesama (dalam lingkup sosialnya). Sering kali, sikap gereja lemah (tidak bersuara) terhadap pelanggaran HAM dan ketidakadilan sosial. Kebanyakan gereja hanya merasa perlu mengajarkan pokok-pokok Alkitab terhadap anggotanya, namun tidak mengajarkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kiranya Tuhan menolong kita dan gereja kita untuk berperan serta melaksanakan tanggung jawab sosial. [GI Laazar Manuain]