Bacaan Alkitab
Mazmur 6

1  Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.
2  Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.
3  Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,
4  dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?
5  Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.
6  Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?
7  Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.
8  Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.
9  Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;
10  TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.
11  Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.


Renungan GEMA
Kasihani Aku, Tuhan!

Dalam Alkitab, kerap kali kita menemukan bahwa Allah menghukum umat-Nya yang telah berdosa dan menjauh dari-Nya. Misalnya, dalam Kitab Hakim-hakim, kita membaca bagaimana bangsa Israel jatuh ke dalam siklus berulang. Mereka berpaling dari Allah dan menyembah berhala. Kemudian, Allah mengirim bangsa lain untuk menjajah mereka. Saat tertindas, mereka mengeluh dan memohon ampun serta meminta pertolongan Allah. Allah menolong dengan mengirimkan seorang hakim. Setelah era hakim tersebut berakhir, Israel kembali berpaling kepada berhala. Demikianlah siklus itu terus berulang dalam sejarah Israel.

Ternyata, siklus semacam itu bukan hanya terjadi dalam kehidupan bangsa Israel, namun juga bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang. Ada kalanya kesalahan tertentu langsung diganjar Tuhan dengan pendisiplinan yang bertujuan untuk mengarahkan umat-Nya agar kembali kepada-Nya. Dalam Mazmur 6, pemazmur menjerit karena penderitaan yang merupakan pendisiplinan Allah. Kemungkinan, pemazmur menghadapi lawan/musuh (6:8-9, 10) yang membuatnya sakit secara fisik dan tertekan secara psikis (kejiwaan). Ia sadar bahwa segala kesulitan yang ia hadapi sesungguhnya bersumber dari murka Allah (6:2). Ia tahu bahwa Allah yang menunjukkan murka-Nya adalah Allah yang akan menyelamatkan Dia. Oleh karena itu, mazmur tersebut penuh dengan permohonan agar Allah mengasihani, menyembuhkan, meluputkan, dan menyelamatkan pemazmur (6:3, 5). Lewat penutup mazmur ini, kita menemukan bahwa permohonan pemazmur tidak sia-sia karena doa dan keluhannya telah didengar oleh Tuhan (6:9-11).

Jelaslah bahwa setiap permasalahan atau pergumulan yang kita hadapi tidak bisa langsung kita tafsirkan sebagai bentuk pendisiplinan Allah (ingat kisah Ayub). Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyakit, bencana, permusuhan dari orang sekitar adalah bentuk hukuman Allah. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita perlu kepekaan untuk menyadari bahwa dosa tertentu memang bisa mendatangkan konsekuensi yang wajar. Seandainya ada pelanggaran yang menyebabkan kita mengalami tekanan dan permasalahan tertentu, kita perlu bertobat dan segera datang kepada Allah. Mintalah dengan sungguh pengampunan dan pertolongan dari-Nya, maka niscaya Ia akan mendengar! [GI Williem Ferdinandus]