Bacaan Alkitab
Mazmur 15

1  Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
2  Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
3  yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
4  yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
5  yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.


Renungan GEMA
Ibadah dan Relasi dengan Sesama

Mudah bagi kita untuk berpikir bahwa “ibadah adalah urusan ritual saya pribadi dengan Allah”. Jika berkaca dari Mazmur 15, kita akan menemukan bahwa pemikiran demikian ternyata keliru. Dengan menye-but “kemah” dan “gunung yang kudus” yang menjadi simbol tempat kediaman Allah dan pusat peribadatan bangsa Israel, pemazmur mengemukakan sebuah pertanyaan mengenai siapa yang memenuhi syarat untuk berada di hadapan Allah (15:1). Apakah yang memenuhi syarat adalah mereka yang membawa korban terbaik? Tidak. Apakah yang memenuhi syarat adalah mereka yang rajin beribadah? Tidak. Menariknya, pemazmur menjawab pertanyaan ini dengan gambaran bahwa orang yang berkenan ditemui Allah adalah mereka yang berlaku tidak bercela, melakukan apa yang adil, mengatakan kebenaran, memandang hina orang yang mengabaikan perjanjian Allah, memuliakan orang yang takut akan Tuhan dan yang berpegang pada sumpah (15:2, 4). Orang yang berkenan ditemui Allah adalah mereka yang tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat, tidak menimpakan cela pada tetangga, tidak mengejar riba, dan tidak menerima suap (15:3, 5a). Jadi, Allah hanya berkenan ditemui oleh mereka yang memiliki integritas dalam relasi dengan sesama manusia.

Jelaslah bahwa ibadah bukan hanya menyangkut masalah ritual (upacara keagamaan), melainkan harus terintegrasi (menyatu) dengan sikap moral seseorang terhadap sesamanya. Sia-sialah ibadah kita jika ternyata Allah mendapati kita memiliki relasi yang tidak beres dengan sesama. Kedekatan seseorang dengan Allah seharusnya mempengaruhi relasinya dengan sesama. Kasih kepada Allah harus terwujud dalam kasih kepada sesama karena keduanya terintegrasi satu sama lain (Matius 22:36-40).

Pada akhirnya, mazmur ini membawa kita pada sebuah perenungan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya membawa seseorang pada pemeriksaan diri. Tanyakanlah kepada diri sendiri, “Layakkah saya berdiri di hadapan-Nya?” Ingatlah bahwa Allah itu kudus dan Allah menghendaki agar kita hidup dalam kekudusan! Setiap kali beribadah, akuilah segala keberdosaan Anda dalam pengakuan dosa yang sungguh-sungguh. Hiduplah secara berintegritas dengan mewujud-kan iman dalam perbuatan saat menjalin relasi dengan sesama. [GI Michele Turalaki]