Bacaan Alkitab
Mazmur 106:1-23

1  Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
2  Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan TUHAN, memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?
3  Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!
4  Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu,
5  supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milik-Mu sendiri.
6  Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik.
7  Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau.
8  Namun diselamatkan-Nya mereka oleh karena nama-Nya, untuk memperkenalkan keperkasaan-Nya.
9  Dihardik-Nya Laut Teberau, sehingga kering, dibawa-Nya mereka berjalan melalui samudera raya seperti melalui padang gurun.
10  Demikian diselamatkan-Nya mereka dari tangan pembenci, ditebus-Nya mereka dari tangan musuh;
11  air menutupi para lawan mereka, seorangpun dari pada mereka tiada tinggal.
12  Ketika itu percayalah mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian kepada-Nya.
13  Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya;
14  mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara.
15  Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka.
16  Mereka cemburu kepada Musa di perkemahan, dan kepada Harun, orang kudus TUHAN.
17  Bumi terbuka dan menelan Datan, menutupi kumpulan Abiram.
18  Api menyala di kalangan mereka, nyala api menghanguskan orang-orang fasik itu.
19  Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan;
20  mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.
21  Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir:
22  perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.
23  Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka.


Renungan GEMA
Kasih Setia Allah Dalam Hidup Kita

Pada hari ini, kita telah tiba di penghujung tahun 2019. Hari ini merupakan saat yang tepat bagi kita—orang-orang percaya—untuk melakukan pemeriksaan diri dan mengevaluasi seluruh peristiwa yang terjadi di sepanjang tahun 2019 yang segera berlalu ini. Tahun 2019 memberikan tantangan dan kesulitan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, tahun ini penuh kesulitan, dan mungkin juga penuh penderitaan. Bagi sebagian yang lain, tahun 2019 menghadirkan berbagai macam peluang dan keberhasilan. Melalui perenungan terhadap berbagai pengalaman yang nyata di masa yang silam, kita akan bisa menyadari kasih setia Allah dalam kehidupan umat-Nya.

Kasih setia atau hesed (istilah bahasa Ibrani dalam Perjanjian Lama) mengungkapkan kasih dari Allah yang telah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya dan yang akan mewujudkan semua yang telah Dia janjikan. Misalnya, Allah tidak melupakan janji yang telah diungkapkan kepada Abraham, Ishak dan Yakub, sehingga Dia mengeluarkan Israel dari perbudakan di Mesir (Mazmur 106:7-11, Keluaran 2:24, 14:15-31). Allah yang memiliki kasih setia itu melindungi, menyelamatkan, dan memberikan segala hal yang baik kepada umat-Nya (Mazmur 17:7, 18:51, 44:27). Akan tetapi, kaum Israel justru “melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka” (106:21). Israel tidak menaati firman Allah, melainkan justru mengabaikan perintah-perintah-Nya (106:13, 25).

Mazmur 106 dapat menjadi landasan bagi kita untuk melakukan refleksi diri dan evaluasi terhadap pengalaman hidup yang telah lewat. Pertama, mungkinkah kita telah bersikap seperti bangsa Israel yang melupakan kasih setia Allah di sepanjang tahun 2019? Pada waktu kesulitan datang jangan-jangan kita menggerutu dan meragukan kebaikan, serta kasih Allah. Akibatnya, kita justru melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Kedua, sewaktu keberhasilan sudah diraih dan kesuksesan telah dalam genggaman, apakah kita bersyukur kepada Tuhan? Sang pemazmur memulai untaian pujiannya dengan bersyukur kepada Allah yang setia (106:1), namun tidak sedikit orang percaya yang berlaku abai dalam bersyukur. Akhiri tahun 2019 dengan mendapatkan kembali kasih setia-Nya. “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mazmur 107:1). [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]