Bacaan Alkitab
Markus 14:10-25

10  Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.
11  Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
12  Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”
13  Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia
14  dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku?
15  Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!”
16  Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.
17  Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
18  Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”
19  Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”
20  Ia menjawab: “Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku.
21  Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”
22  Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
23  Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
24  Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
25  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”


Renungan GEMA
Menebus Kesempatan

Dalam konteks seputar perjamuan terakhir sebelum Yesus Kristus disalibkan, ada dua tokoh penggenap nubuat yang dicatat dalam Alkitab. Tokoh pertama adalah Yudas. Ia adalah seorang tokoh antagonis (lawan tokoh utama) yang melekat kuat dalam benak para pembaca Alkitab. Sebagai seorang yang hidup dekat dengan Tuhan Yesus, ia justru secara aktif mendatangi pihak yang terang-terangan memusuhi Yesus Kristus. Ia merencanakan dan menerangkan cara menangkap Yesus Kristus kepada para imam kepala, bahkan ia mendapat upah dari rencana jahatnya. Yudas gagal “memanfaatkan” peluang sepanjang tiga tahun yang terbuka lebar di depan matanya. Bila ia bukan pengkhianat, seharusnya ia bisa menjadi salah seorang penerus pekerjaan Tuhan Yesus di muka bumi ini.

Tokoh kedua tidak terkenal, bahkan Alkitab tidak menyebut namanya, seakan-akan nama itu tidak terlalu penting. “Apalah arti sebuah nama?” ujar Shakespeare. Dia tidak mendapat privilege (hak istimewa) seperti Yudas yang hidup dekat dengan Tuhan Yesus selama tiga tahun. Alkitab hanya menyebut orang ini sebagai pemilik rumah yang tidak dikenal oleh dua murid yang diutus Tuhan Yesus untuk mempersiapkan Paskah bagi-Nya. Sekalipun demikian, ketika Yesus Kristus membutuhkan tempat, ia segera menyediakan ruang atas rumahnya yang besar yang sudah lengkap dan tersedia (14:15). Apa maksud “lengkap dan tersedia”? Apakah ia pernah membayangkan kehadiran Tuhan Yesus dalam rumahnya sehingga ia dengan sengaja menyediakan segala yang diperlukan untuk perjamuan Paskah? Kita tidak dapat memastikan. Kemungkinan besar, hanya sekali ini saja Yesus Kristus datang ke rumahnya dan memakai rumah itu sebagai tempat bersejarah bagi jutaan orang percaya. Orang ini berhasil “memanfaatkan” secara maksimal satu-satunya peluang di depan matanya untuk menjadi salah seorang yang “berjasa” menjelang kematian Yesus Kristus. Kalau kita bisa memilih, saya yakin bahwa kita tidak ingin menjadi Yudas. Meskipun dekat dengan Yesus Kristus, apa gunanya kalau ia pada akhirnya celaka (14: 21). Lebih baik jadi orang yang tidak “dekat” dengan Yesus Kristus, tetapi berguna bagi Dia, setuju? Saya tidak setuju! Tindakan menyediakan rumah untuk salah satu peristiwa paling bersejarah dalam kekristenan memberi petunjuk bahwa ia tidak “jauh” dari Tuhan. Seberapakah kita mengerti hati Tuhan? Tebuslah kesempatan yang ada! [GI Mario Novanno]