Bacaan Alkitab
Amsal 22:1-6

1  Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.
2  Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.
3  Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.
4  Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.
5  Duri dan perangkap ada di jalan orang yang serong hatinya; siapa ingin memelihara diri menjauhi orang itu.
6  Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.


Renungan GEMA
Didik dan Dedikasi
Pdt Petroes Soeryo

Kata “didiklah” di dalam Amsal 22:6 yang kita baca hari ini berasal dari kata Ibrani chanak ( חֲ נךְ ) yang dapat berarti mendidik, melatih, atau mendedikasikan. Menariknya, kata ini juga dapat berarti “memasukkan sesuatu ke mulut” untuk menggambarkan tindakan seorang ibu di daerah Timur Tengah pada masa itu dalam melatih bayi untuk beralih dari minum susu ke makanan orang dewasa (menyapih). Seorang ibu akan secara sengaja mengunyah atau menghancurkan makanan, lalu mengoleskannya ke lidah bayi tersebut. Tujuannya adalah agar sang bayi mencicipi dan mulai menerima makanan yang seterusnya akan dia makan sejalan dengan pertumbuhan usianya. Jadi, selain memberi nasihat agar orang tua mendidik anak-anak mereka, ayat di atas juga menyingkapkan prinsip dasar tentang pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses belajar yang disengaja seperti seorang ibu yang—secara bertahap—sengaja mengganti makanan bagi bayinya ketika menyapih. Dalam pendidikan, seorang anak diberi sebuah rangkaian program pembelajaran berjenjang agar anak itu—secara bertahap—bertumbuh mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, perlu ada upaya disengaja dari orang dewasa untuk merumuskan tujuan yang hendak dicapai, merancang pengetahuan yang perlu diajarkan, dan mengajarkannya.

Orang tua tak boleh membiarkan anaknya bertumbuh tanpa didikan. Memang, manusia memiliki rasio untuk dapat belajar secara alamiah dan spontan dari segala sesuatu di sekitarnya. Namun, belajar secara spontan adalah belajar tanpa tujuan tertentu yang hendak dicapai. Masalahnya, kerusakan akibat dosa membuat manusia lebih tertarik untuk “belajar” berbuat dosa daripada “belajar” taat kepada kebenaran Allah. Di sekitar kita, terlihat betapa mudahnya anak-anak belajar berbohong, menyontek, mengonsumsi narkoba, melakukan tindak kriminal, dan sebagainya. Tidak mendidik anak sama saja dengan membiarkan anak belajar dari dunia yang sudah rusak karena dosa. Dalam ayat di atas, kata “didiklah” juga berarti “mendedikasikan”. Maksudnya, dengan mendidik, kita mendedikasikan anak kita kepada Tuhan untuk memenuhi panggilan hidup yang mulia di tengah dunia. Apakah Anda telah membiasakan diri menyisihkan waktu khusus untuk mendidik anak-anak Anda? Kepada siapa Anda mendedikasikan anak Anda: Kepada dunia atau kepada Tuhan?