Bacaan Alkitab
1 Timotius 2:1-7

1  Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
2  untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
3  Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,
4  yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
5  Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,
6  yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.
7  Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul–yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta–dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran.


Renungan GEMA
Tanggung Jawab Mendoakan Pemimpin
Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono

Dalam bahasa asli Perjanjian Baru-yaitu bahasa Yunani-Rasul Paulus menggunakan empat kata untuk doa dalam 2:1, yaitu permohonan, doa, doa syafaat, dan ucapan syukur. Akan tetapi, dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata kedua-yang merupakan kata umum untuk doa-tidak disebut. Dalam bacaan Alkitab hari ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa Rasul Paulus mendorong jemaat untuk mengucap syukur dan mendoakan pemerintah. Bila para pejabat pemerintah adalah orang-orang yang baik, mudah bagi kita untuk bersyukur dan mendoakan mereka. Akan tetapi, bila para pejabat pemerintah adalah para penguasa yang jahat, apakah kita juga perlu bersyukur dan mendoakan mereka?

Saat Rasul Paulus menulis surat 1 Timotius, pemerintah yang berkuasa adalah pemerintah Romawi. Pada masa itu, Kaisar Romawi serta para gubernur yang memimpin wilayah bersikap menindas terhadap orang Kristen. Sebagai contoh, Rasul Paulus didera dan dipenjara di Filipi tanpa melalui proses peradilan yang adil (Kisah Para Rasul 16:19-24). Kristus pun mengalami sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, gubernur Romawi pada masa itu. Walaupun situasi seperti itu, Rasul Paulus menasihati pembaca surat 1 Timotius untuk mendoakan semua orang, termasuk mendoakan para penguasa Romawi (2:2). Saat ini, jelas bahwa umat Kristen juga harus bersyukur dan mendoakan pemerintah yang berkuasa, lepas dari kepuasan penilaian publik terhadap kinerja dan sikap sang pemimpin, serta lepas dari posisi atau pilihan politik pribadi. Kita harus mendoakan para pemimpin karena tindakan mendoakan itu memuliakan Allah (2:3). Bila kita ingin hidup berkenan kepada Allah yang telah menebus manusia melalui pengorbanan Kristus (2:6), seharusnya kita tekun berdoa bagi pemerintah, walaupun para pejabat negara belum tentu bertindak secara baik dan benar. Melalui doa kepada Allah, kita memohon agar para penguasa diberi hikmat dan hati yang baik untuk mendatangkan ketenangan serta ketenteraman bagi rakyat (2:2). Allah juga menghendaki agar orang yang belum percaya dapat diselamatkan (2:4). Melalui doa orang percaya, semoga Allah memberikan anugerah-Nya, sehingga mereka yang belum mengenal Allah menjadi percaya kepada Kristus. Apakah Anda tekun mendoakan pemerintah?