Bacaan Alkitab
Roma 13:1-7

1  Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
2  Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
3  Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.
4  Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
5  Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.
6  Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.
7  Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.


Renungan GEMA
Mempengaruhi Pemerintah
Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono

Rasul Paulus mengungkapkan secara tidak berbelit-belit bahwa pemerintah yang berkuasa adalah hamba Allah untuk kebaikan warga negara (13:4). Melalui suratnya yang lain, Rasul Paulus mengungkapkan bahwa Allah memberikan panggilan yang berbeda kepada setiap orang, misalnya panggilan untuk menjadi rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar (Efesus 4:11). Istilah gembala di sini tidak digunakan dalam pengertian sempit, yaitu hanya menunjuk kepada orang yang memangku jabatan gerejawi sebagai gembala jemaat atau pendeta. Para penguasa disebut pula sebagai gembala (2 Samuel 5:2) yang berperan untuk melakukan yang terbaik bagi kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya (Yehezkiel 34:3-6).

Alkitab menyatakan bahwa Allah memberi kemampuan atau bakat yang berbeda-beda kepada setiap orang. Misalnya, Daud memiliki bakat dalam seni musik (1 Samuel 16:18). Selain itu, Sang Khalik memberikan karunia rohani menurut kehendak-Nya (Roma 12:6). Karunia rohani dianugerahkan hanya kepada orang yang percaya kepada Kristus (1 Korintus 12:4) untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7) dan untuk membangun tubuh Kristus (Efesus 4:11-15). Allah mungkin pula memanggil orang percaya untuk berkarya sebagai pejabat pemerintahan atau sebagai pemimpin dalam dunia politik. Allah memberi kemampuan dan karunia rohani yang tepat supaya pribadi yang Allah utus dapat menjalankan tanggung jawab menurut panggilan-Nya.

Alkitab juga menyingkapkan bahwa orang percaya hendaknya mengembangkan bakat dan karunia rohani-yang telah Allah berikan-semaksimal mungkin (Matius 25:14-30). Setiap murid Kristus tertanam dan bertumbuh dalam gereja, keluarga, serta sekolah Kristen. Dengan demikian, ketiga lembaga tersebut semestinya membantu setiap murid untuk menemukan dan mengembangkan semua kemampuan serta karunianya. Akan tetapi, banyak orang Kristen yang cenderung memberi batasan bahwa generasi penerus gereja tidak boleh berkarya dalam bidang politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia berdosa telah menyalahgunakan kekuasaan yang ia miliki. Namun, Alkitab berkata, “Pemerintah adalah hamba Allah” (Roma 13:4). Apakah yang gereja, keluarga, dan sekolah Kristen dapat lakukan untuk mendukung terwujudnya panggilan Allah itu?