Bacaan Alkitab
2 Samuel 19:1-14

1  Lalu diberitahukanlah kepada Yoab: “Ketahuilah, raja menangis dan berkabung karena Absalom.”
2  Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara itu mendengar orang berkata: “Raja bersusah hati karena anaknya.”
3  Sebab itu tentara itu masuk kota dengan diam-diam pada hari itu, seperti tentara yang kena malu kembali dengan diam-diam karena melarikan diri dari pertempuran.
4  Raja menyelubungi mukanya, dan dengan suara nyaring merataplah raja: “Anakku Absalom, Absalom, anakku, anakku!”
5  Lalu masuklah Yoab menghadap raja di kediamannya serta berkata: “Pada hari ini engkau mempermalukan semua hambamu, yang telah menyelamatkan nyawamu pada hari ini dan nyawa anak-anakmu laki-laki dan perempuan dan nyawa isteri-isterimu dan nyawa gundik-gundikmu,
6  dengan mencintai orang-orang yang benci kepadamu, dan dengan membenci orang-orang yang cinta kepadamu! Karena pada hari ini engkau menunjukkan bahwa panglima-panglima dan anak buah tidak berarti apa-apa bagimu. Bahkan aku mengerti pada hari ini, bahwa seandainya Absalom masih hidup dan kami semua mati pada hari ini, maka hal itu kaupandang baik.
7  Oleh sebab itu, bangunlah, pergilah ke luar dan berbicaralah menenangkan hati orang-orangmu. Sebab aku bersumpah demi TUHAN, apabila engkau tidak keluar, maka seorangpun tidak akan ada yang tinggal bersama-sama dengan engkau pada malam ini; dan hal ini berarti celaka bagimu melebihi segala celaka yang telah kaualami sejak kecilmu sampai sekarang.”
8  Lalu bangunlah raja dan duduk di pintu gerbang. Maka diberitahukanlah kepada seluruh rakyat, demikian: “Ketahuilah, raja duduk di pintu gerbang.” Kemudian datanglah seluruh rakyat itu menghadap raja. Adapun orang Israel sudah melarikan diri, masing-masing ke kemahnya.
9  Seluruh rakyat dari semua suku Israel berbantah-bantah, katanya: “Raja telah melepaskan kita dari tangan musuh kita, dialah yang telah menyelamatkan kita dari tangan orang Filistin. Dan sekarang ia sudah melarikan diri dari dalam negeri karena Absalom;
10  tetapi Absalom yang telah kita urapi untuk memerintah kita, sudah mati dalam pertempuran. Maka sekarang, mengapa kamu berdiam diri dengan tidak membawa raja kembali?”
11  Raja Daud telah menyuruh orang kepada Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dengan pesan: “Berbicaralah kepada para tua-tua Yehuda, demikian: Mengapa kamu menjadi yang terakhir untuk membawa raja kembali ke istananya?” Sebab perkataan seluruh Israel telah sampai kepada raja.
12  “Kamulah saudara-saudaraku, kamulah darah dagingku; mengapa kamu menjadi yang terakhir untuk membawa raja kembali?
13  Dan kepada Amasa haruslah kamu katakan: Bukankah engkau darah dagingku? Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau tidak tetap menjadi panglimaku menggantikan Yoab.”
14  Demikianlah dibelokkannya hati semua orang Yehuda secara serentak, sehingga mereka menyuruh menyampaikan kepada raja pesan ini: “Kembalilah, tuanku dan semua anak buahmu.”


Renungan GEMA
Memulihkan Relasi Yang Buruk
GI Feri Irawan

perang Dunia Kedua, yang terjadi dalam rentang tahun 1939-1945, disebut-sebut sebagai konflik paling mematikan sepanjang sejarah peradaban umat manusia, yaitu menewaskan hingga sekitar enam puluh juta jiwa. Berakhirnya Perang Dunia Kedua di tahun 1945 menyisakan tugas berat bagi seluruh negara yang terdampak untuk memulihkan tatanan kehidupan yang porak-poranda. Demikian juga dengan Israel pasca gagalnya pemberontakan Absalom. Meskipun perang telah berhenti dan orang Israel telah melarikan diri masing-masing ke kemahnya (19:8b), namun raja belum kembali ke istananya. Inilah yang menimbulkan perbantahan di antara para pemuka suku-suku di Israel. Dalam hal ini, para tua-tua Israel di luar Yehuda lebih tanggap dalam mengemukakan wacana pengembalian takhta kepada Raja Daud, ketimbang tua-tua Yehuda yang memilih untuk bungkam.

Keengganan tua-tua Yehuda untuk segera mengembalikan Raja Daud ke takhtanya mungkin disebabkan adanya rasa takut atau rasa bersalah, karena hubungan suku Yehuda dengan keluarga Raja Daud lebih dekat ketimbang suku-suku lain. Mereka khawatir bahwa Raja Daud akan membalas dendam atas pengkhianatan mereka. Itulah sebabnya, para tua-tua Yehuda memilih untuk bungkam terhadap wacana pemulihan kedudukan raja. Demi menunjukkan niat baik dan menjalin kembali relasi dengan mereka, Raja Daud meminta Imam Zadok dan Abyatar untuk berbicara meyakinkan mereka dan mengganti Yoab dengan Amasa sebagai panglima perang raja. Pada akhirnya, seluruh tua-tua Yehuda sepakat mendukung Raja Daud untuk kembali memimpin sebagai Raja Israel.

Tidak mudah memulihkan kembali relasi yang telah rusak. Lebih-lebih bila keretakan hubungan disebabkan oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu pihak. Namun, Raja Daud–sebagai pihak yang dikhianati–memiliki hati yang besar, sehingga ia berinisiatif untuk menjalin relasi lebih dulu dengan orang-orang yang pernah menjadi seterunya. Sikap kebesaran hati dan pro-aktif ini memulihkan kembali relasi yang telah rusak. inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen, lebih-lebih setelah kita sadar bahwa sebenarnya kita dulu adalah seteru Allah, namun Allah lebih dulu berinisiatif memulihkan relasi kita dengan-Nya lewat penebusan dalam Kristus Yesus.