Bacaan Alkitab
2 Samuel 19:15-30

15  Lalu berangkatlah raja pulang dan sampailah ia ke tepi sungai Yordan. Sementara itu orang Yehuda telah sampai ke Gilgal untuk menyongsong raja dan untuk membawa raja menyeberang sungai Yordan.
16  Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud.
17  Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja,
18  lalu menyeberang dari tempat penyeberangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, ketika raja hendak menyeberangi sungai Yordan,
19  dan berkata kepada raja: “Janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah, dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada hari tuanku raja keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi.
20  Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa; dan lihatlah, pada hari ini akulah yang pertama-tama datang dari seluruh keturunan Yusuf untuk menyongsong tuanku raja.”
21  Lalu berbicaralah Abisai, anak Zeruya, katanya: “Bukankah Simei patut dihukum mati karena ia telah mengutuki orang yang diurapi TUHAN?”
22  Tetapi Daud berkata: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya, sehingga kamu pada hari ini menjadi lawanku? Masakan pada hari ini seorang dihukum mati di Israel! Sebab bukankah aku tahu, bahwa aku pada hari ini adalah raja atas Israel?”
23  Kemudian berkatalah raja kepada Simei: “Engkau tidak akan mati.” Lalu raja bersumpah kepadanya.
24  Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat.
25  Ketika ia dari Yerusalem menyongsong raja, bertanyalah raja kepadanya: “Mengapa engkau tidak pergi bersama-sama dengan aku, Mefiboset?”
26  Jawabnya: “Ya tuanku raja, aku ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! –sebab hambamu ini timpang.
27  Ia telah memfitnahkan hambamu ini kepada tuanku raja. Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik.
28  Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istanamu. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada raja?”
29  Tetapi raja berkata kepadanya: “Apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutuskan: Engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu.”
30  Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: “Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat.”


Renungan GEMA
Ketulusan Hati Dalam Relasi
GI Feri Irawan

Seperti kutu loncat, demikianlah ungkapan yang tepat bagi politisi yang suka berpindah-pindah partai, hanya karena partai berikutnya sedang naik daun dan cukup menjanjikan bagi karier politiknya. Orang yang demikian sangat tepat jika disebut sebagai seorang yang tidak memiliki pendirian, mementingkan diri sendiri, dan selalu cari aman. Dalam kisah pelarian Raja Daud, kita bisa melihat sosok Simei dan Ziba sebagai orang-orang yang bersifat seperti itu. Ketika Raja Daud jatuh karena pemberontakan Absalom, Simei mengutukinya. Meskipun Raja Daud tidak meladeni hinaan Simei pada saat itu, sikap Simei tidak bisa dibenarkan. Setelah kedudukan Raja Daud pulih dan ia hendak menyeberangi sungai Yordan untuk kembali ke Yerusalem, Simei menjadi orang pertama yang datang membantu menyeberangkan Raja Daud. Meskipun Simei sampai bersujud memohon ampun kepada Daud, namun semuanya itu hanya dia lakukan demi mencari aman. Ziba pun juga turut hadir membantu menyeberangkan Raja Daud, tentu dengan harapan bahwa Raja Daud akan ingat untuk menepati janji yang pernah diucapkannya setelah tiba di Yerusalem.

Tokoh ketiga yang dimunculkan dalam bagian perikop ini adalah Mefiboset yang menyongsong kedatangan Raja Daud. Sejak kepergian Raja Daud, Mefiboset bertekad untuk tidak membersihkan kaki, tidak memelihara janggut, dan tidak mencuci pakaiannya sebagai tanda dukacita atas tragedi yang menimpa Raja Daud. Bahkan, dia sendiri menjadi korban penipuan Ziba, hambanya. Meski ia kehilangan sebagian ladang karena sudah telanjur dijanjikan oleh Raja Daud untuk diberikan kepada Ziba, Mefiboset menganggap kedatangan Raja Daud jauh lebih membawa sukacita ketimbang soal ladang tersebut.

Sangat sulit mencari seseorang yang setia dan memiliki hati yang tulus dalam berelasi. Terkadang, kita bahkan tidak bisa menduga apakah kebaikan seseorang sungguh-sungguh didasarkan pada ketulusan atau ada niat terselubung untuk kepentingan diri sendiri. Sebagai orang yang hatinya telah diterangi oleh firman Tuhan, marilah kita menunjukkan ketulusan hati dalam berelasi. Janganlah sikap kita dibuat-buat. Lebih-lebih, jangan sampai kita hidup bersandiwara hanya demi meraih keuntungan bagi diri sendiri.