Bacaan Alkitab
Mazmur 22:1-19

1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud.
2  Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
3  Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
4  Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
5  Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
6  Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
7  Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
8  Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
9  “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
10  Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
11  Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
12  Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
13  Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
14  mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
15  Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
16  kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
17  Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
18  Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
19  Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.


Renungan GEMA
Jujurlah Pada-Nya
GI Mario Novanno

Pernah ada satu masa dalam hidup saya, saat saya merasa berada di titik terendah. Saat itu, saya merasa frustrasi terhadap diri sendiri, mengapa saya tidak dapat menjadi lebih baik. Saya merasa gagal menjadi suami yang baik. Saya merasa gagal menjadi ayah yang baik. Ada suara yang menuduh bahwa saya adalah orang yang egois yang hanya peduli dengan nama baik sebagai hamba Tuhan. Saat itu, saya sampai berpikir untuk berhenti menjadi hamba Tuhan. Yang lebih berat, saat itu, Tuhan terasa jauh. Sudah bertahun-tahun saya meminta agar Tuhan menolong saya untuk berubah. Bahkan, bila mungkin, saya mau menjadi robot yang dikendalikan oleh Tuhan, sehingga saya tidak perlu lagi menghadapi pergolakan hebat dalam hati untuk menimbang apakah hendak menolak atau menaati kehendak Tuhan. Saya ingin bersikap taat tanpa pergumulan. Akan tetapi, Tuhan seakan-akan diam dan saya seperti berada dalam lumpur hisap yang menelan saya hidup-hidup.

Daud mengalami situasi yang amat menekan dirinya. Ayat 13-19 menggambarkan situasi yang sedang dia hadapi. Yang dialami Daud berbeda dengan yang saya alami, tetapi perasaan yang ada dalam hatinya dan hati saya mungkin sama. Daud merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dirinya dan tidak bersedia menolong dirinya. Tuhan diam meskipun Daud telah berseru dan berteriak minta tolong siang-malam kepada-Nya. Sangat wajar jika Daud berkata, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Jangan lupa bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah. Ditinggalkan Tuhan adalah tragedi terbesar dalam hidupnya! Tuhan Yesus mengatakan kalimat yang sama saat Ia menanggung dosa umat manusia di atas kayu salib karena saat itu Allah Bapa meninggalkan diri-Nya. Tekanan terasa makin berat bagi Daud saat orang-orang mengolok-olok bahwa Daud tetap memercayakan dirinya kepada Tuhan, padahal Tuhan bersikap cuek terhadap dia (22:9). Kondisi itu mirip dengan pengalaman Ayub saat istrinya–yang seharusnya menguatkan dia–malah berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Tuhan memberi ruang kepada setiap orang percaya–yang Dia izinkan mengalami titik terendah dalam hidupnya–untuk bersikap jujur dalam berkeluh kesah mengungkapkan perasaan kepada-Nya. Jujurlah dan tetaplah mendekat kepada Allah!