Bacaan Alkitab
Mazmur 26

1  Dari Daud. Berilah keadilan kepadaku, ya TUHAN, sebab aku telah hidup dalam ketulusan; kepada TUHAN aku percaya dengan tidak ragu-ragu.
2  Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.
3  Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.
4  Aku tidak duduk dengan penipu, dan dengan orang munafik aku tidak bergaul;
5  aku benci kepada perkumpulan orang yang berbuat jahat, dan dengan orang fasik aku tidak duduk.
6  Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN,
7  sambil memperdengarkan nyanyian syukur dengan nyaring, dan menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.
8  TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam.
9  Janganlah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa, atau hidupku bersama-sama orang penumpah darah,
10  yang pada tangannya melekat perbuatan mesum, dan yang tangan kanannya menerima suapan.
11  Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku.
12  Kakiku berdiri di tanah yang rata; aku mau memuji TUHAN dalam jemaah.


Renungan GEMA
Otentisitas dan Keberanian Diuji
GI Mario Novanno

Kesan apa yang Anda dapatkan saat membaca sekilas Mazmur 26 ini? Bila Anda bingung, Anda tidak sendiri. Apa lagi, jika Anda adalah orang yang bertipe judgmental atau suka menghakimi, Anda dengan mudah dapat mengemukakan dua alasan: Pertama, Daud seperti seorang yang narsisistik–yaitu memiliki keinginan berlebihan untuk diperhatikan dan disukai–karena dia seperti membanggakan kualitas-kualitas unggul dalam dirinya. Ia mengaku telah hidup dalam ketulusan (26:1, 11), memiliki iman yang kokoh (26:1), hidup dalam kebenaran Tuhan (26:3), menjaga pergaulan (26:4-5), beribadah kepada Tuhan (26:6-7), dan mencintai rumah Tuhan (26:8). Orang yang judgmental lebih mudah mencurigai jenis orang seperti Daud yang terlalu berani mengakui kesalehan hidup yang telah ia jalani. Kedua, jika bercermin pada prinsip anugerah, siapa yang berani bersikap seperti Daud yang memandang betapa saleh dirinya, sehingga ia beranggapan bahwa sudah sepantasnya Tuhan memberinya keadilan (26:1), izin hidup (26:9), serta kebebasan dan belas kasihan (26:11), seolah-olah anugerah dapat dibeli dengan kesalehan? Daud bukan narsistik, tetapi dia otentik atau apa adanya. Kita memang harus waspada karena banyak orang menganggap anugerah Allah sebagai penghargaan atas jasa seseorang.

Mazmur ini kemungkinan besar ditulis oleh Daud pada saat Absalom–anak kandungnya sendiri–mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Daud yang sah. Namun, daripada melakukan perlawanan yang dapat mengakibatkan perang saudara dan mengakibatkan banyak jatuh korban jiwa, Daud memilih datang dan meminta pembelaan Tuhan. Secara terang-terangan, Daud memohon kepada Tuhan untuk memberi keadilan, bukan main hakim sendiri. Daud mempersilakan Tuhan untuk menguji dan mencoba dirinya, menyelidiki batin dan hatinya. Tidak ada niat jahat untuk mempertahankan posisinya sebagai raja, tidak ada motivasi jahat yang tersembunyi dalam hatinya sebagai seorang manusia. Tidak ada kebencian yang membakar hasrat yang dibungkus dengan alasan untuk mendidik putranya. Daud yakin bahwa pada akhirnya, kebenaran akan Tuhan nyatakan, dan dari mulutnya sendiri–di hari itu–ia akan memuji Tuhan. Daud datang ke hadapan Tuhan secara otentik–bukan narsistik–dan membiarkan Tuhan terus memurnikan hatinya.