Bacaan Alkitab
Mazmur 28

1  Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.
2  Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.
3  Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.
4  Ganjarilah mereka menurut perbuatan mereka dan menurut kelakuan mereka yang jahat; ganjarilah mereka setimpal dengan perbuatan tangan mereka, balaslah kepada mereka apa yang mereka lakukan.
5  Karena mereka tidak mengindahkan pekerjaan TUHAN dan perbuatan tangan-Nya; Ia akan menjatuhkan mereka dan tidak membangunkan mereka lagi.
6  Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.
7  TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
8  TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!
9  Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.


Renungan GEMA
Berjagalah terhadap Ketidaktulusan
GI Mario Novanno

Dengan nada sarkastis, saya berkata dengan setengah berteriak, “Jago banget acting-nya!” Saya sangat terpengaruh dan berempati saat mendengarkan curhat seorang rekan. Saya merasa menjadi korban seperti dirinya. Pasalnya, rekan saya merasa sangat kecewa karena orang yang selama ini dia anggap sebagai sahabat yang sangat ia percayai, bahkan seorang mentor yang ia kagumi, ternyata tega menikamnya dari belakang. Ia merasa dimanfaatkan, dimanipulasi, dan ditelanjangi. Pernahkah Anda merasa seperti rekan saya itu?

Daud memahami bahwa ada orang-orang yang ramah atau kelihatan baik, tetapi sebenarnya hatinya jahat. Kebaikannya hanya merupakan sandiwara yang dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Kebaikan yang dilakukan untuk menutupi niat jahat itu merupakan lawan dari ketulusan. Yang menjadi masalah, niat jahat yang tersembunyi atau ketidaktulusan itu tidak mudah dikenali sebelum muncul bukti yang terlihat jelas. Tidaklah mengherankan bila Daud berseru kepada Tuhan, “Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.” (28:3). Berhati-hatilah!

Kembali kepada kisah rekan saya di atas, saya kira sangat manusiawi jika ia menjadi marah, sedih, kecewa, dan berharap agar keadilan dan kebenaran terungkap. Daud juga seperti itu. Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa dalam kondisi kecewa itu, Daud datang kepada Tuhan (28:1-2), tempat yang paling tepat dan aman untuk mengekspresikan luka hatinya. Perhatikanlah permohonan Daud kepada Tuhan mengenai orang-orang yang tidak tulus itu, “Ganjarilah mereka …; ganjarilah mereka … balaslah kepada mereka… Ia akan menjatuhkan mereka dan tidak membangunkan mereka lagi.” (28:4-5). Apakah Daud sadis? Entahlah! Daud sekadar mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya! Seandainya Tuhan meminta Daud untuk mengampuni karena orang itu telah berubah, sangat mungkin bahwa Daud akan taat. Di Mazmur 28–seperti di Mazmur lainnya–Daud sedang bermazmur, bukan merencanakan pembalasan. Anda boleh membaca mazmur ini sebagai permohonan saat Anda merasa dikhianati, tetapi jangan membuat rencana untuk melakukan pembalasan!