Bacaan Alkitab
1 Timotius 1:12-20

12  Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku–
13  aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.
14  Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
15  Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
16  Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
17  Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
18  Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.
19  Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,
20  di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.


Renungan GEMA
Mengenal Allah dan Mengenal Diri
GI Hendro Lim

Di dalam bukunya yang berjudul What You Do Is Who You Are, Ben Horowitz, seorang pakar manajemen modern menuliskan pengamatannya tentang bagaimana beberapa pemimpin mengubah kondisi zaman mereka. Horowitz berpendapat bahwa para pemimpin perlu memahami diri dan strategi mereka serta membangun budaya agar bisa berhasil. Contohnya adalah Genghis Khan yang berasal dari latar belakang sederhana, tetapi dapat mengenali kekuatan bangsa Mongol, sehingga ia berhasil menyatukan bangsa Mongol dan membangun salah satu kekaisaran paling luas dalam sejarah dunia. Apa yang disampaikan Horowitz merupakan hal yang penting karena salah satu hikmat terbesar yang dapat diperoleh manusia adalah pengenalan akan dirinya.

John Calvin menulis demikian, “Hampir semua hikmat yang kita miliki, yakni hikmat yang benar, terdiri dari dua hal: pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri.” (Institutes of Christian Religion I.1.i). Dalam 1 Timotius 1:12-20, Rasul Paulus mengungkapkan motivasi pelayanannya yang lahir dari pengenalannya terhadap diri sendiri dan terhadap Allah. Di satu sisi, Rasul Paulus menyadari bahwa dirinya adalah seorang penghujat, seorang penganiaya, dan seorang ganas yang telah bertindak tanpa pengetahuan. Bahkan, dia menyebut dirinya sendiri sebagai “orang berdosa yang paling berdosa”. Di sisi lain, Rasul Paulus tidak lantas merasa bahwa dirinya tidak layak lalu tenggelam dalam mengasihani diri sendiri. Rasul Paulus mendapati bahwa pendosa seperti dirinya ternyata telah dikasihani oleh Kristus, telah dikaruniai anugerah yang berlimpah, dan telah mengalami seluruh kesabaran Allah. Oleh karena itu, Rasul Paulus tidak bisa tidak selain setia dalam tugas pelayanannya, dan kemudian memercayakan tugas pelayanan tersebut kepada Timotius dengan pesan agar Timotius senantiasa memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.

Siapakah diri Anda di hadapan Allah? Siapakah Allah bagi diri Anda? Apakah Anda telah menolong orang-orang di sekitar Anda untuk mengenal diri mereka sendiri dan mengenal Alllah yang kita sembah? Tanpa hikmat dari pengenalan akan Allah dan pengenalan terhadap diri sendiri, tidak seorang pun dapat membangun budaya kehidupan Kristiani yang berhasil.