Bacaan Alkitab
1 Timotius 6:1-10

1  Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang.
2  Jika tuan mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena tuan yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih. Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini.
3  Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat–yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus–dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,
4  ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
5  percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
6  Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
7  Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
8  Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
9  Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
10  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


Renungan GEMA
Cukuplah Itu!
GI Hendro Lim

Gereja abad pertengahan menyaksikan ketegangan dan intrik antara kaisar dan pemimpin gereja. Para pemimpin gereja sering memegang hak atas tanah yang luas dan sangat berkuasa, sehingga mereka dapat menentukan hidup matinya seorang kaisar. Para kaisar–dalam upaya mengamankan posisi mereka–menawarkan jabatan pemimpin gereja dan mengangkat mereka yang bersedia berdiri di belakangnya.

Dalam situasi demikian, ordo pengemis–atau mendicant order seperti ordo Fransiskan–dilahirkan. Pengaruh kekayaan terhadap mentalitas dan perilaku para biarawan serta pejabat gereja pada masanya amat mengerikan. Fransiskus memutuskan untuk melarang para biarawannya memiliki apa pun juga. Ketika salah seorang biarawannya pulang dengan sukacita karena seseorang telah memberinya kepingan emas, Fransiskus menyuruh biarawan tersebut meletakkan kepingan emas itu di bibirnya kemudian membenamkan keping emas tersebut ke dalam tumpukan kotoran dengan bibirnya. Menurut Fransiskus, itulah tempat yang tepat bagi kepingan emas tersebut.

Tentu saja tidak semua orang dipanggil untuk hidup seperti Fransiskus dan para biarawannya. Walaupun demikian, tidak dapat disangkal bahwa uang bukan hanya dapat menjadi hamba yang baik, tetapi juga dapat menjadi tuan yang kejam. Tuhan Yesus sendiri mengajar banyak hal tentang uang. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus mengingatkan Timotius agar memelihara rasa cukup dalam dirinya. Beliau seakan-akan berkata bahwa ibadah yang tidak disertai rasa cukup tidak banyak manfaatnya (6:6). Keinginan menjadi kaya bukan hanya membawa orang ke dalam pencobaan atau jerat yang dapat mencelakakan, tetapi juga dapat membuat seseorang menyimpang dari imannya. Tanpa rasa cukup, mendapatkan Allah pun bisa saja terasa tidak berarti apa-apa!

Marilah kita meneladani sebuah doa dalam Amsal 30:7-9, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”