Bacaan Alkitab
Ayub 1:1-5

1  Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
2  Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
3  Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
4  Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
5  Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

Ayub 3:1

1  Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya.

Ayub 13:15

15  Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.

Ayub 42:5-6

5  Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
6  Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”


Renungan GEMA
Iman yang Seutuhnya
GI Iwan Catur Wibowo

Mengikut Tuhan itu menuntut kesediaan untuk berubah. Bahkan, iman pun seharusnya berkembang. Perubahan iman Ayub adalah contoh yang baik. Mula-mula, iman Ayub hanya sebatas believe (percaya dengan otak). Iman jenis ini menekankan ibadah ritual dan gaya hidup agamawi serta meyakini bahwa “kalau aku tekun beribadah dan berperilaku baik, hidupku akan aman dan diberkati Tuhan.” Iman jenis ini berpandangan bahwa Allah selalu mengawasi dan siap menghukum bila kita berbuat dosa. Oleh karena itu, Ayub yang saleh itu kuatir bahwa anak-anaknya berbuat dosa saat berpesta, sehingga ia selalu membuat ritual korban bakaran kepada Allah agar hidupnya tidak bermasalah (1:1-5).

Akan tetapi, Iblis mengetahui kelemahan iman jenis ini. Itulah sebabnya, ia meminta izin Allah untuk merenggut semua milik Ayub karena ia yakin bahwa iman Ayub akan goyah dalam penderitaan. Ternyata, iman Ayub tetap kuat. Ia tidak mengutuki Allah. Akan tetapi, Ayub mengutuki hari kelahirannya (3:1), suatu tanda bahwa ia mulai tidak nyaman dengan believe-nya. Untungnya, Ayub terus mencari Allah dalam doa-doa ratapannya, sehingga imannya semakin kuat. Bahkan, ia siap mati jika Allah menghendakinya, “Jika Allah hendak membunuhku, aku berserah saja” (13:15a, versi BIS). Di sini, Ayub memilih kata trust–artinya berserah, tanda bahwa iman Ayub bertumbuh dari believe–artinya percaya dengan otak–menjadi trust–artinya berserah, mempercayakan diri sepenuh hati. Allah meneguhkan iman Ayub yang baru melalui percakapan (pasal 38-39) yang membuat visi Ayub tentang Allah menjadi begitu besar, sampai-sampai semua penderitaannya terasa kecil dan ia menyesali semua protesnya kepada Allah (42:5-6). Imannya (trust) kini bisa meyakini bahwa meskipun segalanya hilang, hidupnya akan baik-baik saja selama bersama Allah. Ia sadar bahwa Allah yang besar adalah Allah yang mengasihi dia.

Baik hidup menderita atau tidak, iman para murid Kristus seharusnya bertumbuh seiring dengan pertumbuhan pengenalan kita akan Allah, Sang Firman yang menciptakan alam semesta (Kejadian 1:3) dan yang telah menjadi manusia dan mati bagi keselamatan kita. Seperti Ayub, mari kita lakukan bagian kita, yaitu bertekun dalam waktu pribadi bersama dengan Allah sampai Ia mengutuhkan iman kita. Iman believe juga penting–karena iman berawal dari situ–tetapi tidak boleh berhenti di situ, melainkan harus makin utuh, menjadi iman trust!