Bacaan Alkitab
2 Timotius 3:1-9

1  Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
2  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
3  tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
4  suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
5  Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
6  Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,
7  yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.
8  Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.
9  Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.


Renungan GEMA
Ibadah Harus Disertai Ketulusan!
GI Hendro Lim

Tahun 2011, seorang anggota DPR yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi berkata, “Sumpah mati saja saya siap.” Selama sidang berlangsung, ia sering menampilkan diri sebagai sosok yang religius. Akan tetapi, akhirnya, pengadilan memutuskan bahwa sang anggota dewan itu terbukti melakukan tindakan pidana korupsi dan hakim menjatuhkan vonis hukuman penjara dan denda.

Modus menampilkan diri sebagai seorang yang religius demi mendapat keuntungan bukan hal yang baru di dunia ini. Beberapa tahun lalu, polisi anti kejahatan cyber Filipina menangkap Maria Cecilia Caparas yang dikenal sebagai “cybersex queen” karena memiliki usaha pemerasan cybersex lintas negara yang sangat masif. Di antara korbannya, ada yang begitu stress sehingga bunuh diri. Ketika ditangkap, Maria sedang mengenakan sehelai kaus bertuliskan “In the happy moments praise God, in the difficult moments seek God” (Di waktu senang memuji Allah, di waktu susah mencari Allah).

Dalam surat 2 Timotius, Rasul Paulus menunjukkan bahwa sejak dekade pertama kekristenan, sudah banyak orang yang secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakikatnya memungkiri kekuatannya (3:5). Mereka mengenakan topeng religiositas untuk menutupi sifat dan karakter mereka yang sesungguhnya. Mereka menjalankan ritual agamawi sebagai kedok kejahatan mereka. Di mata Rasul Paulus, pada dasarnya, mereka menuruti hawa nafsu, bukan menuruti Allah. Rasul Paulus memerintahkan agar Timotius menjauhi orang-orang seperti itu.

Sayangnya, orang-orang seperti itu tidak hanya ada di abad pertama. Saat Kaisar Constantine menjadi Kristen dan memberi hak istimewa kepada orang Kristen, banyak orang berbondong-bondong menjadi Kristen tanpa memahami apa arti menjadi Kristen yang sesungguhnya. Di kemudian hari, di abad pertengahan, Gereja banyak dinodai oleh orang-orang yang melakukan “simony”, yaitu memperjualbelikan jabatan gerejawi. Sayangnya, orang-orang yang melakukan ibadah untuk mencari keuntungan masih terus ada hingga saat ini. Pertanyaannya, apakah ibadah yang kita lakukan saat ini sungguh-sungguh kita lakukan dengan tulus ikhlas di hadapan TUHAN? Marilah kita mengintrospeksi diri secara jujur di hadapan TUHAN!