Bacaan Alkitab
Mazmur 39

1  Untuk pemimpin biduan. Untuk Yedutun. Mazmur Daud.
2  Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.”
3  Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.
4  Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:
5  “Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
6  Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela
7  Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
8  Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.
9  Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!
10  Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.
11  Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena serangan tangan-Mu.
12  Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela
13  Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
14  Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”


Renungan GEMA
Saat Anda Disakiti
Pdt. Jonathan Prasetia

Sebagian orang percaya bereaksi keras ketika menghadapi tekanan dari pihak orang-orang jahat. Misalnya, ia bisa menjadi mudah marah dan berlaku kasar terhadap sesamanya. Akan tetapi, ia bisa pula memilih untuk diam. Reaksi yang kedua ini juga bisa menimbulkan efek negatif karena orang yang memendam perasaannya bisa menjadi stres, dan stres yang berkepanjangan bisa berkembang menjadi depresi, yaitu gangguan jiwa yang disebabkan oleh perasaan tertekan terus-menerus. Kedua macam reaksi ini merupakan dilema atau pilihan yang serba salah bagi orang percaya.

Dilema seperti itu juga dialami oleh Daud. Tampaknya, Daud adalah tipe orang yang senang menyimpan perasaan. Kondisi ini disebabkan oleh orang-orang jahat yang selalu menekan hidupnya. Semula, Daud ingin tutup mulut sebagai jalan “paling aman”. Dengan bersikap diam, Daud mengekang lidahnya sehingga ia tidak melakukan dosa dengan perkataannya. Dengan bersikap diam, Daud tidak memberi kesempatan kepada orang fasik untuk menyerang dia. Di luar dugaan, Daud menjadi sangat tertekan dan frustrasi. Dalam keadaan seperti itu, Daud memilih jalan keluar melalui membicarakan permasalahannya dengan Allah. Pertama, Daud menceritakan kondisinya dan emosinya yang sebenarnya kepada Tuhan (39:2-4). Kedua, Daud menyadari kerapuhan dirinya (39:5-7). Ketiga, Daud menyadari keberdosaannya (39:8-14). Mazmur tersebut seperti tidak memberi jawaban yang melegakan. Namun, dengan melakukan ketiga hal tersebut Daud memperoleh kekuatan yang besar. Itulah sebabnya, Daud bisa berkata, “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.” (39:8).

Barangkali pergumulan Daud serupa dengan pergumulan kita saat ini. Tekanan hidup seperti semakin besar. Perlakuan orang lain yang membenci dan menyudutkan kita mungkin terasa semakin berat, seolah-olah tidak ada jalan keluar. Bila kita menghadapi situasi seperti itu, bicarakanlah permasalahan kita dengan Tuhan. Ceritakanlah perasaan dan kondisi kita saat ini. Sadarilah bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita hanyalah manusia yang rapuh, bahkan penuh dosa. Akuilah segala dosa dan pelanggaran kita dengan jujur. Pengakuan itu akan membuat kita mendapat penghiburan dan pengharapan yang baru dari Tuhan.