Bacaan Alkitab
Lukas 6:1-19

1  Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
2  Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
3  Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
4  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
5  Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
6  Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.
7  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.
8  Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri.
9  Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”
10  Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.
11  Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.
12  Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
13  Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:
14  Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,
15  Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,
16  Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
17  Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
18  Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
19  Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan GEMA
Tujuan Hukum
GI Wirawaty Yaputri

Pernahkah Anda mendengar orang berkata bahwa menjadi orang Kristen itu sulit karena banyak aturannya: Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu? Sekilas, pandangan tersebut tampaknya benar. Akan tetapi, sebenarnya orang-orang yang berpendapat seperti itu mungkin telah salah memahami tujuan hukum dan aturan dalam firman Tuhan. Sejak semula, Allah tidak memberi hukum dengan maksud untuk mengekang umat-Nya. Sepuluh Hukum Allah serta berbagai peraturan keagamaan dan sosial dalam kehidupan umat Israel bertujuan agar mereka hidup kudus, baik, dan mengalami damai sejahtera. Hukum tidak diberikan dengan tujuan untuk membebani atau memperbudak umat. Hukum diberikan untuk membantu umat Allah agar hidup dalam damai sejahtera.

Orang Farisi melihat bahwa murid-murid Tuhan Yesus memetik bulir gandum, memakan, dan menggisar—atau memutar—bulir gandum pada hari Sabat. Mereka mengkritik karena perbuatan para murid itu tergolong sebagai pekerjaan menyiapkan makanan yang merupakan pelanggaran terhadap aturan Sabat. Terhadap kritik tersebut, Tuhan Yesus menjawab dengan mengangkat kisah Daud dan orang-orangnya yang kelaparan saat melarikan diri dari kejaran Raja Saul (1 Samuel 21:1-6). Saat itu, Ahimelekh—imam di Nob—memberikan roti kudus kepada Daud dan orang-orangnya. Dalam situasi normal, roti kudus itu hanya boleh dikonsumsi oleh para imam (Imamat 24:5-9). Namun, Ahimelekh memberikan roti itu kepada Daud dan para pengikutnya setelah tahu bahwa mereka itu tahir. Roti kudus memang hanya boleh dimakan oleh para imam yang telah menguduskan diri (Bilangan 18:11-13). Imam di Nob, Daud, dan Tuhan Yesus mengetahui hukum dan aturan, namun mereka juga tahu bahwa hukum dan aturan tersebut adalah untuk kebaikan umat, bukan untuk mencelakai umat. Saat nyawa terancam karena lapar, maka imam, Daud, dan Yesus Kristus tahu bahwa nyawa harus lebih diutamakan daripada aturan.

Rincian aturan hari Sabat yang dibuat oleh para ulama Yahudi dipandang bersifat mengikat dan harus dilakukan. Akan tetapi, Tuhan Yesus tahu bahwa aturan berhenti bekerja pada hari Sabat itu dimaksudkan agar umat Allah dapat menikmati istirahat dan menikmati Allah melalui ibadah. Apakah ibadah telah menjadi prioritas Anda?