Bacaan Alkitab
Lukas 18:1-27

1  Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2  Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
3  Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
4  Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
5  namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”
6  Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
7  Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
8  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
9  Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
10  “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
11  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
12  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
13  Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
14  Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
15  Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
16  Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
17  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”
18  Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
19  Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
20  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.”
21  Kata orang itu: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”
22  Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
23  Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
24  Lalu Yesus memandang dia dan berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
25  Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
26  Dan mereka yang mendengar itu berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”
27  Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.”


Renungan GEMA
Doa dan Iman
GI Wirawaty Yaputri

Tuhan Yesus sering kali memakai perumpamaan untuk mengajar atau untuk menjawab pertanyaan. Perumpamaan tentang hakim yang tidak benar (18:1-8) termasuk dalam rangkaian jawaban atas pertanyaan orang-orang Farisi tentang kapan Kerajaan Allah akan datang (17:20). Dalam 17:20-35, Tuhan Yesus menjelaskan keadaan eskatologis–yaitu keadaan yang akan terjadi di masa depan–saat Ia datang kedua kali. Dia menekankan bahwa yang penting bukan masalah waktu, melainkan sikap dan iman dalam menanti. Waktu kedatangan Kristus kedua kali tidak akan diberitahukan kepada manusia karena Kerajaan Allah sudah ada dan sudah hadir melalui kehadiran Yesus Kristus (17:21), dan sedang menunggu penggenapannya yang sempurna. Melalui perumpamaan tentang hakim yang tidak benar, Tuhan Yesus mengajar para murid dan orang-orang yang bertanya kepada-Nya tentang cara menanti sampai Kerajaan Allah digenapi dengan sempurna.

Dalam menantikan penggenapan Kerajaan Allah, mereka harus berdoa dengan tidak jemu-jemu. Berdoa dengan tidak jemu-jemu itu berhubungan erat dengan masalah iman. Orang yang sungguh-sungguh beriman pasti akan berdoa dengan tidak jemu-jemu. Dalam 18:8, Tuhan Yesus menyimpulkan perbuatan janda yang meminta terus-menerus di dalam perumpamaan itu sebagai tindakan iman. Orang yang beriman dengan sungguh-sungguh akan terus bertahan dan setia sampai akhir. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, akan terjadi masa yang sukar (17:30-35). Orang yang tidak berdoa tidak akan mampu bertahan menghadapi banyak kesulitan, tetapi orang yang selalu berdoa akan mendapat kekuatan untuk bertahan sampai akhir.

Saat pandemi yang sedang kita hadapi ini juga termasuk masa yang sukar. Kita akan sulit mempertahankan iman pada masa yang sulit ini tanpa tekun berdoa. Kita tidak bisa mengetahui kapan pandemi ini akan benar-benar berakhir. Orang Kristen tidak boleh menjadi tawar hati sehingga tidak berdoa lagi. Tanpa doa, hati kita mudah dikuasai oleh rasa takut, gelisah, serta stres yang diakibatkan oleh pandemi yang berkepanjangan, dan selanjutnya kita bisa kehilangan damai sejahtera. Bila hakim yang jahat memenuhi permintaan janda yang tekun meminta, apalagi Bapa di surga: Ia akan memelihara hidup kita. Apakah Anda sudah bertekun dalam doa?