Bacaan Alkitab dan Renungan Gema

本日经文读经运动


Bacaan Alkitab

Lukas 22:47-53

47  Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya.
48  Maka kata Yesus kepadanya: “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?”
49  Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”
50  Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya.
51  Tetapi Yesus berkata: “Sudahlah itu.” Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.
52  Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung?
53  Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.”


Menghadapi Masa Sengsara

GI Wirawaty Yaputri

Teladan Tuhan Yesus saat menghadapi kondisi terberat dalam hidup-Nya–yaitu pada masa sengsara atau masa menjelang penyaliban–adalah petunjuk atau pedoman bagi kita dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada dua teladan yang hendak kita pelajari:

Pertama, Tuhan Yesus berdoa secara rutin dan tekun. Ia biasa berdoa sepanjang malam maupun pagi-pagi benar (Lukas 6:12; Matius 14:23; Markus 1:35). Doa tetap menjadi prioritas saat Ia sibuk. Melalui doa, Ia menjalin persekutuan yang intim dengan Allah, mengenali kehendak Allah, serta mendapat kekuatan untuk menghadapi masa sengsara. Tanpa kehidupan doa yang baik, kita sulit memahami dan melaksanakan kehendak Allah, apa lagi bila kita mengalami hal-hal buruk. Tanpa kekuatan dari Tuhan, hal-hal buruk dapat membuat kita menjadi kecewa, marah, dan tawar hati, bahkan bisa membuat kita kehilangan iman. Teladan Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa doa membuat Ia sanggup menerima dan melaksanakan kehendak Bapa, yaitu meminum cawan penderitaan.

Kedua, Tuhan Yesus mengasihi dalam segala situasi. Tidaklah mudah untuk tetap mengasihi saat menderita. Saat seorang hamba Imam Besar yang ikut menangkap Dia dipotong telinganya oleh Petrus, Tuhan Yesus justru menyembuhkan telinga orang itu (Lukas 22:51). Perlakukan buruk dan tidak adil tidak membuat Tuhan Yesus membenci atau tidak memedulikan hamba Imam Besar yang telinganya putus itu. Walaupun Petrus pernah menyangkal Dia, Tuhan Yesus tetap mengasihi Petrus dan pandangan-Nya tetap penuh kasih. Walaupun Ia mengalami siksaan dan perlakukan buruk dari orang-orang yang menangkap dan mengadili Dia, Tuhan Yesus tidak memperhatikan diri-Nya sendiri, melainkan memperhatikan orang lain. Dia juga mengasihi para perempuan yang menangisi Dia saat Ia dibawa untuk disalibkan (23:28). Ia meminta orang lain memikirkan diri mereka dan keluarga mereka, serta mengingatkan mereka akan kehancuran yang akan menimpa Yerusalem (23:29-30). Saat Ia disalibkan, Tuhan Yesus tetap memperhatikan ibunya serta menitipkan ibunya kepada murid yang Ia kasihi (Yohanes 19: 26-27). Tepat sebelum ia disalibkan, Ia masih memperhatikan seorang penjahat yang meminta pengampunan dan penerimaan-Nya (23:42-43).

Saat ini, kita juga sedang mengalami masa-masa sulit. Apakah Anda sudah belajar seperti Yesus Kristus? Tetaplah berdoa dengan tetap memercayai dan tetap mengasihi Dia! Bila Anda melakukannya, kekuatan dan damai sejahtera akan memenuhi kehidupan Anda!


Renungan GEMA 28 Maret 2021

Seizin Tuhan

GI Wirawaty Yaputri

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus berhasil ditangkap dan disalibkan bukan karena Ia tidak dapat menghindar atau menyelamatkan diri, melainkan karena Ia sengaja menyerahkan diri-Nya! (Bandingkan dengan Yohanes 10:17-18). Para ahli Taurat dan imam-imam kepala yang memusuhi Tuhan Yesus berkali-kali mencari cara untuk menangkap dan membunuh Dia, namun mereka selalu mengurungkan niat mereka karena mereka takut terhadap orang banyak (Lukas 19:47-48; 20:19; 22:2). Mereka tidak mempunyai kuasa untuk melaksanakan rencana mereka. Yudas datang mencari mereka dan menawarkan rencana tipu muslihat untuk menangkap Tuhan Yesus secara diam-diam (22:4). Para ahli Taurat dan imam-imam kepala menerima tawaran itu dan mereka berkomplot menyusun siasat untuk menangkap Tuhan Yesus.

Orang-orang yang merencanakan kejahatan itu sama sekali tidak menyadari bahwa keberhasilan rencana mereka itu disebabkan karena Tuhan Yesus menyerahkan diri-Nya. Para ahli Taurat dan imam-imam kepala itu mungkin mengira bahwa mereka berhasil menangkap orang yang selama ini mereka benci karena telah sering mempermalukan mereka dengan menegur dan melawan perbuatan munafik mereka. Namun, tanpa sadar, mereka telah menjadi alat yang dipakai oleh Iblis (22:53). Walaupun Iblis memiliki kuasa untuk melakukan berbagai hal, kuasanya terbatas. Ia tidak bisa melakukan apa yang tidak diizinkan Allah. Kisah Ayub dengan jelas mengajar kita tentang kebenaran itu. Ayub bisa dicobai karena Allah memberi izin kepada Iblis. Tuhan Yesus dapat ditangkap karena memang waktu yang Allah tentukan sudah tiba, yaitu waktu saat Allah Bapa menyerahkan Dia kepada lawan-lawan-Nya untuk disalibkan atau waktu yang ditentukan Allah Bapa agar Anak-Nya mati sebagai korban tebusan bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Allah telah memiliki rencana untuk melakukan segala sesuatu. Karena manusia yang terbatas tidak mampu memahami rencana-Nya, manusia sering meragukan Dia. Saat mengalami kesulitan dan masalah dalam kehidupan, mungkin kita menyangka bahwa Allah tidak peduli, bahkan mungkin ada yang meragukan bahwa Ia benar-benar ada. Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan bahwa Allah memegang kendali atas segala sesuatu, termasuk atas hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita.