Bacaan Alkitab
Mazmur 58

1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam dari Daud.
2  Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para penguasa? Apakah kamu hakimi anak-anak manusia dengan jujur?
3  Malah sesuai dengan niatmu kamu melakukan kejahatan, tanganmu, menjalankan kekerasan di bumi.
4  Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.
5  Bisa mereka serupa bisa ular, mereka seperti ular tedung tuli yang menutup telinganya,
6  yang tidak mendengarkan suara tukang-tukang serapah atau suara pembaca mantera yang pandai.
7  Ya Allah, hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya, patahkanlah gigi geligi singa-singa muda, ya TUHAN!
8  Biarlah mereka hilang seperti air yang mengalir lenyap! Biarlah mereka menjadi layu seperti rumput di jalan!
9  Biarlah mereka seperti siput yang menjadi lendir, seperti guguran perempuan yang tidak melihat matahari.
10  Sebelum periuk-periukmu merasakan api semak duri, telah dilanda-Nya baik yang hidup segar maupun yang hangus.
11  Orang benar itu akan bersukacita, sebab ia memandang pembalasan, ia akan membasuh kakinya dalam darah orang fasik.
12  Dan orang akan berkata: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.”


Renungan GEMA
Jangan Sewenang-wenang!
GI Purnama

Kepemimpinan berkaitan dengan hak dan kewajiban. Sering terjadi bahwa seorang pemimpin hanya menuntut haknya sebagai seorang yang memegang kekuasaan serta melupakan kewajibannya, sehingga ia menjadi penguasa yang bersikap sewenang-wenang. Perlu selalu diingat bahwa salah satu kewajiban yang dituntut dari seorang pemimpin adalah bersikap adil (58:2). Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa yang patut menjadi pemimpin adalah orang yang bersedia untuk melayani orang lain (Matius 20:25-28). Dengan demikian, tiap pemimpin harus memperhatikan keperluan orang yang ia pimpin. Pemimpin yang baik bukan hanya menuntut agar perintahnya diikuti, tetapi ia harus bersikap adil dan tidak sewenang-wenang. Sayangnya, dorongan tabiat dosa membuat banyak pemimpin berlaku jahat dan memimpin dengan kekerasan (Mazmur 58:3). Mereka bukan menjadi pelindung, melainkan menjadi penindas yang membuat orang yang mereka pimpin menjadi sengsara. Pemimpin jahat semacam ini bisa ditemui di sepanjang zaman, bahkan tetap ada sampai masa kini. Pemazmur memohon agar Allah menghancurkan gigi–maksudnya “kekuasaan”–pemimpin semacam ini (58:7). Kehancuran pemimpin jahat semacam ini akan membuat orang benar bersukacita (58:11).

Janganlah kita berpikir bahwa pemimpin jahat semacam ini hanya menunjuk kepada pemimpin negara! Pemimpin jahat semacam ini juga bisa menunjuk kepada pemimpin dalam lingkup yang lebih kecil seperti pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, pemimpin gereja, bahkan termasuk juga guru dan kepala rumah tangga. Dalam pengertian semacam ini, dapat dikatakan bahwa hampir semua pembaca renungan ini juga termasuk dalam kategori pemimpin. Saat menjadi pemimpin, ingatlah bahwa Tuhan Yesus menuntut agar kita menjadi pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang bersikap sewenang-wenang karena merasa berkuasa! Ingatlah pula bahwa “Pemimpin” yang sesungguhnya dari semua pemimpin adalah Allah sendiri. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh sikap dan cara kita dalam memimpin kepada Allah! Marilah kita mengevaluasi kehidupan kita masing-masing: Apakah Anda adalah pemimpin yang bersedia melayani orang yang Anda pimpin? Sadarkah Anda bahwa kepemimpinan Anda harus dipertanggungjawabkan kepada Allah?