Bacaan Alkitab
1 Raja-Raja 1:1-27

1 Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya, dan biarpun ia diselimuti, badannya tetap dingin.
2 Lalu para pegawainya berkata kepadanya: “Hendaklah dicari bagi tuanku raja seorang perawan yang muda, untuk melayani dan merawat raja; biarlah ia berbaring di pangkuanmu, sehingga badan tuanku raja menjadi panas.”
3 Maka di seluruh daerah Israel dicarilah seorang gadis yang cantik, dan didapatlah Abisag, gadis Sunem, lalu dibawa kepada raja.
4 Gadis itu amat cantik, dan ia menjadi perawat raja dan melayani dia, tetapi raja tidak bersetubuh dengan dia.
5 Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: “Aku ini mau menjadi raja.” Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya.
6 Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: “Mengapa engkau berbuat begitu?” Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom.
7 Maka berundinglah ia dengan Yoab, anak Zeruya dan dengan imam Abyatar dan mereka menjadi pengikut dan pembantu Adonia.
8 Tetapi imam Zadok dan Benaya bin Yoyada dan nabi Natan dan Simei dan Rei dan para pahlawan Daud tidak memihak kepada Adonia.
9 Sesudah itu Adonia mempersembahkan domba, lembu dan ternak gemukan sebagai korban dekat batu Zohelet yang ada di samping En-Rogel, lalu mengundang semua saudaranya, anak-anak raja, dan semua orang Yehuda, pegawai-pegawai raja;
10 tetapi nabi Natan dan Benaya dan para pahlawan dan Salomo, adiknya, tidak diundangnya.
11 Lalu berkatalah Natan kepada Batsyeba, ibu Salomo: “Tidakkah engkau mendengar, bahwa Adonia anak Hagit, telah menjadi raja, sedang tuan kita Daud tidak mengetahuinya?
12 Karena itu, baiklah kuberi nasihat kepadamu, supaya engkau dapat menyelamatkan nyawamu dan nyawa anakmu Salomo.
13 Pergilah masuk menghadap raja Daud dan katakan kepadanya: Bukankah tuanku sendiri, ya rajaku, telah bersumpah kepada hambamu ini: Anakmu Salomo, akan menjadi raja sesudah aku dan dialah yang akan duduk di atas takhtaku? Mengapakah sekarang Adonia menjadi raja?
14 Dan selagi engkau berbicara di sana dengan raja, akupun akan masuk pula dan menyokong perkataanmu itu.”
15 Jadi masuklah Batsyeba menghadap raja ke dalam kamarnya. Waktu itu raja sudah sangat tua dan Abisag, gadis Sunem itu, melayani raja.
16 Lalu Batsyeba berlutut dan sujud menyembah kepada raja. Raja bertanya: “Ada yang kauingini?”
17 Lalu perempuan itu berkata kepadanya: “Tuanku sendiri telah bersumpah demi TUHAN, Allahmu, kepada hambamu ini: Anakmu Salomo akan menjadi raja sesudah aku, dan ia akan duduk di atas takhtaku.
18 Tetapi sekarang, lihatlah, Adonia telah menjadi raja, sedang tuanku raja sendiri tidak mengetahuinya.
19 Ia telah menyembelih banyak lembu, ternak gemukan dan domba, dan telah mengundang semua anak raja dan imam Abyatar dan Yoab, panglima itu, tetapi hambamu Salomo tidak diundangnya.
20 Dan kepadamulah, ya tuanku raja, tertuju mata seluruh orang Israel, supaya engkau memberitahukan kepada mereka siapa yang akan duduk di atas takhta tuanku raja sesudah tuanku.
21 Nanti aku ini dan anakku Salomo dituduh bersalah segera sesudah tuanku raja mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.”
22 Selagi Batsyeba berbicara dengan raja, datanglah nabi Natan.
23 Diberitahukan kepada raja: “Itu ada nabi Natan.” Masuklah ia menghadap raja, lalu sujud menyembah kepada raja dengan mukanya sampai ke tanah.
24 Natan berkata: “Ya tuanku raja, tuanku sendirilah rupa-rupanya yang telah berkata: Adonia akan menjadi raja sesudah aku dan ia akan duduk di atas takhtaku!
25 Sebab pada hari ini ia telah menyembelih banyak lembu, ternak gemukan dan domba; ia mengundang semua anak raja, para panglima dan imam Abyatar, dan sesungguhnya mereka sedang makan minum di depannya sambil berseru: Hidup raja Adonia!
26 Tetapi hambamu ini, dan imam Zadok dan Benaya bin Yoyada dan hambamu Salomo tidak diundangnya.
27 Jika hal ini terjadi dari pihak tuanku raja, maka engkau tidak memberitahu hamba-hambamu ini, siapa yang akan duduk di atas takhta tuanku raja sesudah tuanku.”


Pengantar Kitab 1 Raja-Raja
Anugerah Allah dalam Kegagalan Manusia
Pdt. Sumito Sung

Perkataan di awal Kitab 1 Raja-Raja, “Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya” menunjukkan bahwa penulis bermaksud mempertahankan kesinambungan dengan kitab 1-2 Samuel. Perbedaan gaya penulisan menunjukkan bahwa penulis 1-2 Samuel berbeda dengan penulis 1-2 Raja-Raja. Dalam kanon Alkitab Ibrani, 1-2 Raja-Raja merupakan satu kitab. Saat Perjanjian Lama diterjemahkan ke bahasa Yunani pada tahun 200 BC, kitab-kitab ini terlalu panjang dan berat bila ditulis dalam satu gulungan tunggal, sehingga kitab ini dibagi menjadi dua. Kitab 1-2 Raja-Raja menceritakan kisah perkembangan Kerajaan Israel yang dari waktu ke waktu semakin merosot, sampai akhirnya dihancurkan oleh tentara musuh.

Dalam bahasa Ibrani, kitab 1-2 Raja-raja disebut “Kerajaan-kerajaan” Israel, bukan “Raja-Raja.” Kata “kerajaan” merujuk pada pemerintahan seorang raja yang didefinisikan dalam kerangka otoritas dan pemerintahan. Para raja Israel berkuasa mutlak. Mereka membuat peraturan. Pada masa itu, tidak ada parlemen, pemungutan suara, maupun partai oposisi. Raja memerintah dengan membuat keputusan, bukan melalui debat. Raja berkuasa mutlak terhadap bawahan, sehingga karakter dan perilaku raja akan membentuk karakter dan perilaku masyarakat pada masa pemerintahannya. Raja Israel akan berdiri sebagai wakil bangsa di hadapan Tuhan, sekaligus sebagai wakil Tuhan di hadapan bangsanya.

Walaupun menguraikan sejarah politik, ekonomi, dan militer, sebenarnya penulis tidak menekankan hal-hal itu. Pusat perhatian penulis adalah pada kualitas rohani dan moral seorang raja. Kualitas rohani berkaitan dengan penyembahan orang Israel, baik kepada TUHAN maupun kepada dewa-dewi. Kualitas moral berkaitan dengan rasa keadilan dan moralitas raja atau lawan-lawannya. Selain itu, Kitab 1-2 Raja-Raja memperlihatkan kenyataan bahwa tangan Allah yang memelihara sedang bekerja dalam kehidupan umat-Nya. Kita dapat merasakan kehadiran Allah sebagai Raja yang sesungguhnya atas Israel, sekalipun Ia tidak kelihatan. Sekalipun kitab ini mengandung “kegelapan”–meninggalkan Allah, dosa, dan hukuman–kitab ini juga mengandung harapan, yaitu bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah telah berjanji untuk menjaga garis kerajaan Raja Daud dan Ia memenuhi janji-Nya. Dengarkanlah Dia agar kita tidak mengalami kemunduran rohani! Bangunlah kerinduan bahwa suatu hari nanti, Tuhan Yesus akan dilihat oleh semua orang di dunia ini sebagai Raja Terakhir dan Raja Teragung!


Renungan GeMA 7 Juli 2021
Bahaya yang Mengancam
Pdt. Sumito Sung

Cerita ini dimulai dengan mengontraskan Raja Daud dan Adonia. Raja Daud sudah tua, lemah, dan kurang sehat, sedangkan Adonia berambisi, bergaya, berperawakan elok, serta didukung oleh Yoab dan Imam Zadok. Tampaknya, penulis memandang Adonia secara negatif, yaitu sekelas dengan Absalom, Saul, dan Eliab yang penampilan fisiknya mengesankan dan berpotensi menjadi raja, tetapi akhirnya menjadi sumber bencana dan ditolak oleh Allah. Raja Daud tidak pernah menegur Adonia. Hal ini mencerminkan bahwa Raja Daud memandang Adonia sebagai seorang yang baik. Melalui kisah tentang Adonia, penulis menyampaikan bahwa Kerajaan Israel sering melewati saat-saat genting di dunia ini. Dalam situasi saat Raja Daud hampir meninggal, muncul situasi kritis. Kesalahan mengambil langkah dapat menimbulkan bencana. Kerajaan Israel dapat menderita karena kepemimpinan yang tidak memenuhi syarat. Penulis melihat bahwa Adonia tidak memenuhi syarat untuk memimpin Kerajaan Israel.

Adonia mengundang semua saudaranya, anak-anak raja, dan semua orang Yehuda, pegawai-pegawai raja untuk mengangkat dirinya sebagai raja, tetapi Nabi Natan, Benaya dan para pahlawan, serta Salomo–yang tidak mendukung rencana kudeta–tidak ikut diundang (1:9-11). Lalu, Nabi Natan mengingatkan Batsyeba–ibu Salomo–bahwa Raja Daud harus diberi tahu tentang hal itu. Raja Daud telah bersumpah kepada Batsyeba bahwa Salomolah yang akan menggantikannya menjadi raja. Adonia juga tahu bahwa Raja Daud menyukai Salomo, sehingga Salomo tidak dia undang ke pestanya. Jika telah menjadi raja, Adonia pasti akan menyingkirkan Salomo (1:12,21). Pada akhirnya, Raja Daud mengetahui apa yang tidak dia ketahui sebelumnya.

Peran Nabi Natan sangat penting. Dialah yang memahami seluruh peristiwa yang telah berlangsung. Dia harus campur tangan dan mendorong Raja Daud untuk bertindak melindungi Batsyeba dan Salomo dari kematian yang hampir pasti. Kisah ini memberikan tantangan kepada kita untuk berani bertindak semestinya bila kita mengetahui apa yang benar, sekalipun tindakan tersebut berisiko. Bila kita merasa tidak berdaya, paling sedikit kita bisa terus berdoa. Apakah Anda telah membangun niat baik dan mempertahankan rasa marah saat melihat kejahatan? Apakah Anda selalu berusaha berbuat baik?