Bacaan Alkitab
1 Raja-Raja 19:9-18

9  Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”
10  Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”
11  Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
12  Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.
13  Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”
14  Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”
15  Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.
16  Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.
17  Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.
18  Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.”


Renungan GEMA
Kesenyapan di atas Popularitas
GI Misael Prawira

Tidak jarang, masa pandemi menjadi ladang yang subur bagi banyak orang—termasuk gereja—untuk menambah popularitas dan kesuksesan. Hasil riset dari Google (salah satu mesin pencarian yang ternama di dunia) terhadap tren tahun 2020 di Indonesia menunjukkan bahwa ada begitu banyak orang yang mencari tahu bagaimana membuat usaha kecil (UMKM), menjadi YouTuber, dan menjadi reseller dari barang-barang yang sudah terkenal atau yang ingin dibuat terkenal. Semua orang mau menjadi terkenal, karena menjadi terkenal—populer, sukses—dianggap bisa memberikan kepuasan hidup. Namun, kesimpulan kita bisa berubah bila kita bercermin pada kisah Elia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Elia baru saja sukses mengalahkan 450 nabi Baal melalui peperangan fenomenal, yaitu saat “api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” (18:38). Seharusnya, Elia sangat bangga terhadap kesuksesan itu! Namun, pernyataan Izebel (19:2) membuat Elia takut dan melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Kisah itu menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu berujung pada kepuasan hidup. Namun, yang perlu kita perhatikan bukan sekadar tentang kesuksesan dan ketakutan Elia, tetapi tentang Tuhan yang tidak hanya menyatakan diri melalui tindakan yang fenomenal—api, gempa bumi, angin badai—tetapi juga di dalam kesenyapan.

Melalui “bunyi angin sepoi-sepoi basa” (19:12), Tuhan hadir bagi Elia dan menguatkan panggilan-Nya terhadap Elia. Kesenyapan Tuhan bekerja itu membuat Elia tidak sadar bahwa Tuhan sudah menyisakan 7000 orang di Israel, “yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia” (19:18). 7000 orang percaya yang tetap setia kepada Tuhan itu dipelihara oleh tangan Tuhan yang bekerja dengan senyap, bukan melalui usaha manusia yang fenomenal. Perenungan ini dapat direalisasikan oleh gereja di masa pandemi bila gereja sungguh-sungguh bergumul untuk menemukan kehendak Tuhan, lalu menaati kehendak Tuhan untuk melakukan hal-hal yang Allah kehendaki. Hai gereja Tuhan, mari mereformasi diri dengan melaksanakan kehendak Tuhan, bukan mengikuti arus tren dunia. Biarkan Tuhan menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan yang sudah Ia siapkan, bukan dengan cara dunia, tetapi dengan cara Tuhan.

 


Renungan GeMA
Website: http://gky.or.id/

Refleksi GeMA
Instagram: https://www.instagram.com/gerejakristusyesus/
Spotify: https://open.spotify.com/show/41oX35XXNm06sPLxehtAbU
Facebook: https://www.facebook.com/gkysinode